sephaer's profileExtra Ordinary Energy sp...PhotosBlogListsMore Tools Help

Extra Ordinary Energy space

Energy for Accelaration

Asep Baelawy

Occupation
Location
Interests
I am "the explosive trainer", some one who always want sharing positive extra ordinary energy to every people in the world.

I have concept about HOPE (House Of Personal Energy) and FLASH ( Future Leader Accelaration System House), I am sure that two concept could be a solution for Indonesian country & our world will getting better.

Life is my school and my laboratorium to creating valuable and blessing community.

Now, I am focus to making youth leader community and facilitate for they leadership accelaration. We will conduct free talent leadership training based on experiential learning approach, producing & spreading fil or Video Compact Disc about Motifografi (Special topic to Motivate people).
Thanks for visiting!
Please wait...
Sorry, the comment you entered is too long. Please shorten it.
You didn't enter anything. Please try again.
Sorry, we can't add your comment right now. Please try again later.
To add a comment, you need permission from your parent. Ask for permission
Your parent has turned off comments.
Sorry, we can't delete your comment right now. Please try again later.
You've exceeded the maximum number of comments that can be left in one day. Please try again in 24 hours.
Your account has had the ability to leave comments disabled because our systems indicate that you may be spamming other users. If you believe that your account has been disabled in error please contact Windows Live support.
Complete the security check below to finish leaving your comment.
The characters you type in the security check must match the characters in the picture or audio.
No list items have been added yet.
September 02

Membangun JIWA Kepemimpinan Pemuda

MEMBANGUN JIWA KEPEMIMPINAN PEMUDA

Persiapan Pemuda untuk menjadi Pemimpin Masa Depan

 

Asep Chaeruloh AT.CQA.MM.[1]

 

 

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi sekumpulan orang menuju pencapaian suatu tujuan[2]. Pemimpin menggerakkan orang-orang dari berbagai kepentingan untuk mencapai tujuan kebaikan bersama. Hal ini menuntut visi dan kemampuan untuk memandu kearah tersebut. Mau kemana bangsa Indonesia dan bagaimana mencapai tujuannya juga tidak akan lepas  dari masalah kepemimpinan.

 

Berbagai konsep dan teori telah banyak dikembangkan sampai di jabarkan dalam berbagai gaya kepemimpinan. Semakin banyak pemimpin yang berhasil muncul dengan masing-masing pendekatannya menyebabkan semakin banyak pula kiat memimpin yang sukses. Semakin banyak konsep dan teori tersebut seiring pula denga semakin cepatnya perubahan sosial, ekonomi dan politik dunia. Banyak buku maupun artikel tentang kepemimpinan yang beredar sekarang. Diantaranya kepemimpinan berprinsip (Stephen R Covey), kepemimpinan dengan hati (Gede Prama), Kekuasaan dengan keluhuran, Pemimpin yang pengikut (Douglas K Smith), Pemimpin yang melayani (William C Pollard) dan lain-lain. Seakan-akan telah muncul suatu prinsip kepemimpinan yang mulai lebih memperhatikan sisi religius dan kemanusiaan dalam memimpin sebagai suatu jawaban terhadap permasalahan kehidupan yang ada. Indikasi apakah ini?

 

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS. Ar Ruum:41)

 

Wahai sahabatku, Para Pemuda terutama Mahasiswa !

Anda sekarang telah memasuki abad 21, abad dimana terjadi perubahan yang sangat cepat dalam berbagai elemen kehidupan, abad yang oleh James Glieck disebut “percepatan dalam segala hal” sebagai suatu masa depan yang serba membingungkan. Dimana hal itupun terjadi dalam terminologi kepemimpinan. Coba Anda simak judul artikel sebagai berikut “Pemimpin yang Pengikut” dari Douglas K.Smith, seperti sebuah kontradiksi. Douglas menyatakan bahwa organisasi abad dua puluh satu, semua pemimpin harus belajar menjadi pengikut kalau mereka hendak memimpin secara berhasil.[3]

 

Abad ini telah mulai digemparkan oleh pengeboman gedung kembar WTC dan Pentagon yang diikuti dengan serangan AS ke Afganistan sehingga mengubah wajah dunia ini. Para pemimpin negara banyak yang mengalami kebingungan dan dilema, permasalahan semakin komplek dan membingungan. Akan seperti apakah wajah dunia ini tergantung dari para pemimpinnya. Dan Anda, Para pemuda dan mahasiswa akan menjadi pemimpin di pertengahan abad ini serta akan menyambung estafeta kepemimpinan,  bentuk kepemimpinan dunia seperti apakah yang akan tercipta.

Pemimpin dunia? Ehm…apa mungkin bagi para pemuda dan mahasiswa Indonesia?…jangankan dunia, di ASEAN saja kita mulai keok dalam olahraganya, hanya urutan ketiga di Kuala Lumpur tahun 2001  …..itulah suara sinis yang muncul. Apakah kalian akan diam melihat semakin terpuruknya bangsa ini?, Apakah pantas sebagai elemen bangsa jika kita lantas berlepas diri dan lebih suka untuk tidak menjadi bagian dari bangsa ini, seperti yang banyak dilakukan para konglemerat, profesional, dan mahasiswa berprestasi yang lari keluar negeri?.

 

Kelangkaan Pemimpin

Di perusahaan-perusahaan ataupun instansi-instansi pemerintahan kepemimpinan dilatihkan hanya untuk orang-orang yang sekiranya akan dan mempunyai jabatan pimpinan atau manajemen puncak, tidak untuk semua pekerja. Kalaupun ada jumlah dan bobotnya hanya sedikit[4].

Dari pimpinan puncak (yang biasanya hanya segelintir orang) yang benar-benar melaksanakan jiwa kepemimpinan masih dapat dihitung dengan jari, mereka lebih dominan menjadi para manajer dibandingkan menjadi pemimpin, sehingga wajar saja ekonomi bangsa kita menjadi makin carut-marut.

 

Di masyarakat kepemimpinanpun menjadi semakin langka. Kalaupun ada, sumber-sumber pengaruh (power) dari para pemimpin tersebut merupakan sumber pengaruh yang temporal bukan yang hakikat sebenarnya, sumber pengaruhnya di karenakan usia, kekayaan, relasi, kedudukan dan keturunan. Di masyarakat lebih parah lagi karena sudah kepemimpinan langka manajerialpun sama langkanya. Maraknya kasus “money politic” adalah indikasi nyata hal di atas, kita sering mendengar bagaimana para calon kepala desa menghamburkan uang untuk menarik pemilihnya, jarang yang mengandalkan akan kemampuan kepemimpinan yang lebih hakiki yaitu kepribadian, keahlian, pengalaman, ilmu dan wawasan[5]. Kita mengetahui bahwa pemimpin terkecil yang langsung berinteraksi dengan masyarakat adalah RW dan RT, namun apakah kita pernah mendengar pendidikan atau pelatihan kepemimpinan untuk para RW atau RT sebagai ujung tombak pemimpin yang bersinggungan dengan masyarakat langsung. Masih banyak RW atau RT yang kegiatan dominannya adalah pelayanan pembuatan KTP, yang kadang itupun menjadi ajang praktek kolusi.

 

Dampak dari lemahnya budaya kepemimpinan menyebabkan masyarakat kita menjadi masyarakat yang hanya siap dipengaruhi, namun tidak siap mempengaruhi. Inilah yang mungkin menjadi sebab kenapa bermacam bentuk “pemberdayaan” dan “kemandirian” kurang marak di masyarakat. Hal tersebut dapat juga dijadikan jawaban atas pertanyaan kenapa berbagai proyek pemberdayaan dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat yang di biaya oleh hutang dari Bank Dunia tiada berbekas namun hanya menambah beban hutang yang harus dibayar oleh anak cucu kita[6].

 

A.     Antara Pemimpin dan Manajer

Orde-orde yang memimpin Indonesia sebelumnya memang telah gagal membawa Indonesia memasuki tinggal landas namun berhasil membawa  Indonesia pada tinggal kandas dengan krisis multi dimensionalnya, entahlah dengan orde sekarang. Kegagalan tersebut salah satunya karena tidak adanya jiwa kepemimpinan di para pemimpin tersebut. Pada dasarnya mereka bukan pemimpin (melakukan yang baik) tetapi kebanyak dari  mereka adalah manajer (melakukan dengan baik). Bisa Anda saksikan sendiri bagaimana mereka melakukan dengan baik korupsi sistematis yang mereka lakukan sehingga sulit untuk dilacak, saking sistematisnya korupsi sudah menjadi budaya dan kita hanya menerima getahnya…dan kadang kitapun terpaksa untuk melakukannya pula walaupun dalam skala kecil?. Kasus mengurus STNK, membuat KTP, menghadapi tilang,dll.

Wahai para pemuda dan mahasiswa ! … apakah kalian akan seperti itu pula kelak memimpin bangsa ini.

 

Dikampus-kampus para mahasiswa diajarkan tentang manajemen walaupun bukan fakultas atau jurusan manajemen sekalipun. Tapi apakah ada mata kuliah “kepemimpinan” yang diajarkan?

Memang hanya sedikit perbedaannya antara manajer dan pemimpin yaitu pada kata “yang” dan “ dengan”, namun dibalik yang sedikit itu terkandung makna yang sangat mendalam yang akan mampu merubah wajah bangsa ini…lebih jauh lagi merubah wajah dunia, kenapa tidak?…

 

“Melakukan yang baik” akan dapat dilakukan oleh seorang pemimpin apabila pemimpin tersebut mau menjadi pengikut. Kehancuran Firaun yang ditenggelamkan di sungai Nil adalah contoh pemimpin yang tidak mau jadi pengikut. Ia tidak mau menjadi pengikut Yang Maha Kuasa malahan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Begitupun pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia sebelumnya dimana mereka tidak mau menjadi pengikut, mereka merasa yang paling berkuasa dan tidak perlu menjadi pengikut berbagai aturan Yang Maha Kuasa, mereka tidak mau menjadi pengikut berbagai perkembangan, kapasitas, wawasan dan berbagi sumber pengaruh lainya yang lebih besar. (mudah-mudahan Anda tidak bingung lagi tentang “Pemimpin Yang Pengikut”)

 

Pertanyaannya sekarang adalah , apakah “yang baik” tersebut dapat muncul begitu saja atau perlu melalui proses?…

 

B.     Kepemimpinan Dikembangkan Bukan Dilahirkan

Perubahan yang cepat menuntut penyesuaian sehingga semua pemimpin harus terus belajar dan meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya serta berbagai sumber-sumber pengaruh lainnya dalam memimpin. Begitu pula para pemuda dan mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan. Ingat ! pertengahan abad 21  merupakan abad dimana para pemuda khususnya mahasiswa (sekarang) akan memimpin.

 

Namun apakah hanya dengan anda menjadi mahasiswa (belajar mata kuliah yang diberikan dosen) lantas anda akan menjadi pemimpin masa depan. Apakah dengan modal tersebut akan cukup menjadikan Anda pemimpin. Oke…Anda dapat lulus dengan nilai terbaik dan bekerja di suatu perusahaan dengan jabatan atau kedudukan tertentu kemudian berkembang terus hingga mencapai puncak karier, apakah dengan demikian anda secara otomatis adalah pemimpin ?.

Namun hal tersebut tidaklah patut juga dijadikan alasan untuk tidak belajar dan mendapatkan nilai yang baik. Hati-hati kadangkala banyak aktivis kampus yang mempunyai IPK Nasakom (nasib satu koma) menjadikan kegiatan organisasi sebagai kambing hitam. Pengalaman membuktikan bahwa banyak perusahaan atau organisasi  lebih menyukai para aktivis kampus yang terlibat dan memimpin organisasi  kampus dibandingkan yang tidak sama sekali, malahan hal tersebut dijadikan salah satu kriteria, namun pengalaman juga membuktikan bahwa mereka membuat kriteria yang lainnya berupa IPK yang minimal diatas 2,75  bagi perusahaan menengah dan IPK  minimal 3 untuk perusahaan multi national company! .

Sekarang Anda berusahalah dikampus sebelum terlambat untuk kelak saat keluar dari dunia kampus dapat berkata “ Saya aktif di Dewan Mahasiswa, DKM, Olah raga dan berbagai unit kegiatan lainnya dan IPK saya diatas 3”. “Wow!….menarik”, saya yakin itu respon yang akan Anda dapatkan dari pewawancara dan lingkungan sekitar Anda.   

 

Wahai para pemuda ! Apakah dengan usia Anda yang sekarang masih muda dan kemudian bertambah usianya seiring dengan berjalannya waktu akan otomatis menyebabkan Anda menjadi pemimpin?.”Belum tentu!”.

 

Untuk dapat mengembangkan kepemimpinannya, maka semua orang harus memiliki dasar-dasar kepemimpinan dan pengalaman memimpin sebagai modalnya (jelas apa yang perlu dikembangkannya). Kita akan mempunyai modal tersebut apabila kita mempunyai keberanian untuk mengambil resiko (take risk) sebagai titik awal menjadi pemimpin. Dengan kata lain memulai untuk menjadi pemimpin berarti kita mulai berhadapan dengan resiko[7].  Ketika Anda belajar kepemimpinan di kampus berarti anda harus terlibat dalam berbagai organisasi kampus yang secara otomatis berarti mengurangi jatah waktu belajar atau tidur, menambah rasa capai dan berbagai resiko lainnya. Ketika Anda aktif di organisasi kepemudaan secara otomatis akan mengurangi waktu bermain Anda, meningkatkan keseriusan Anda.Yes, work hard!

Namun pengalaman telah membuktikan bahwa dibandingkan dampak negatifnya ternyata dampak positif lebih banyak asalkan kita memasuki organisasi yang tepat dan baik atau merupakan organisasi yang belajar (Learning Organizational)[8].

 

Mitos mengaitkan kepemimpinan dengan kedudukan superioritas akan mengangap bahwa jika Anda berada di puncak, Anda secara otomatis adalah pemimpin.Tetapi ingatlah bahwa kepemimpinan bukanlah sebuah  tempat. Ia adalah sebuah proses. Kepemimpinan tentunya bukan karena keturunan, dan yang paling pasti bukan sesuatu yang mistis atau sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh orang biasa, penelitian telah banyak membuktikan bahwa kepemimpinan merupakan suatu rangkaian praktek  yang dapat diamati, dapat dipelajari. Sehingga banyak ahli kepemimpinan mengambarkan kepemimpinan sebagai suatu tangga yang menunjukkan tingkatan yang dapat dilalui oleh semua orang.

 

C.     Kepemimpinan adalah Kepentingan Setiap Orang

Mitos lainnya yang merugikan adalah bahwa kepemimpinan dicadangkan untuk hanya beberapa orang dari kita, beberapa orang yang sudah dilahirkan dengan sumber pengaruh yang banyak. Mitos ini sebagai lanjutan dari adanya mitos bahwa kepemimpinan dilahirkan bukan di tempa (dikembangkan).

 

Wahai para pemuda khususnya mahasiswa ! 

Kepemimpinan adalah kepentingan setiap orang, termasuk di dalamnya adalah setiap pemuda dan mahasiswa. Untuk itu  berusaha dan manfaatkan berbagai sarana melatih kepemimpinan yang dapat digunakan di lingkungan masyarakat atau kampus sebagai ajang awal penempaan kemampuan kepemimpinan kalian. Penelitian selama bertahun-tahun telah membuktikan bahwa dari 2500 orang yang biasa memimpin orang lain untuk mengerjakan hal-hal yang luar biasa, dan tentunya masih ada jutaan yang lainnya. Mereka menyatakan bahwa kepemimpinan itu merupakan kepentingan setiap orang.

 

Wahai Para Pemuda khususnya Mahasiswa !

Apakah kalian tidak malu oleh Melissa Poe dari Sekolah St. Henry di Nashville Tennessee. Tanggal 4 Agustus 1989 sebagai murid kelas empat yang merasa takut karena penghancuran sumber daya dunia yang terus menerus, Poe menulis surat kepada Presiden Bush, meminta dukungannya dalam kampanye menyelamatkan lingkungan demi kebahagiaan generasi mendatang. Setelah mengirimkan surat Poe cemas bahwa suratnya tidak akan pernah mendapat perhatian Presiden. Lagipula Ia hanya seorang gadis kecil. Jadi dengan urgensi isu yang menekan pikirannya Ia berusaha memperoleh perhatian dengan dengan menempelkan suratnya di papan pengumuman. Dengan keuletan dan kerja keras, gadis kecil ini berhasil menempelkan suratnya di papan pengumuman bebas biaya dalam bulan September 1989 dan mendirikan Kids for a Clean Environment (Kids F.A.C.E) sebuah organisasi yang bertujuan mengembangkan program membersihkan lingkungan.

 

Segera setelah itu Poe mulai menerima surat dari anak-anak yang sama prihatinnya mengenai lingkungan dan yang bersedia membantunya. Ketika akhirnya Poe menerima bentuk surat yang mengecewakan dari Presiden, hal tersebut tidak memusnahkan impiannya. Ia tidak lagi membutuhkan bantuan seseorang yang terkenal untuk menyampaikan pesannya. Poe menemukan orang yang dibutuhkan di dalam dirinya-orang yang memiliki kekuatan yang menyemangati orang lain untuk terlibat dan membuat impiannya menjadi kenyataan.

 

Dalam waktu sembilan bulan, lebih dari 250 papan pengumuman diseluruh negeri memasang surat bebas biayanya, dan keanggotaan dalam Kids F.A.C.E membengkak. Dengan tumbuhnya organisasi ini, proyek pertama dijalankan dengan berupa program daur ulang di sekolahnya, membuahkan gagasan matang mengenai bagaimana membebaskan lingkungan. Kegigihan dan semangat Poe yang  memotivasinya untuk berbuat sesuatu membuat sekarang terdapat lebih dari dua ratus ribu anggota dan dua ratus cabang kids F.A.C.E. Poe adalah bukti bahwa Anda tidak perlu menunggu seseorang untuk memimpin Anda, dan Anda memimpin tanpa suatu gelar, kedudukan, atau anggaran.[9]

 

 

Bayangkan oleh Anda, Poe adalah siswa Sekolah Dasar, sedangkan Anda adalah Mahasiswa, tentunya Anda harus lebih mampu berbuat dan memimpin dengan hasil yang Maha juga.

Bayangkan oleh Anda, Poe adalah masih anak-anak, sedangkan Anda adalah pemuda yang tentunya mempunyai sumber daya yang lebih besar utnuk melakukan karya nyata.

 

Untuk itu  mulailah Anda punya semangat dan rencana untuk menjadi pemimpin  di lingkungan masyarakat  dan kampus. Temukan visi atau tujuan yang Anda dapat lakukan kemudian arahkan sekelompok orang untuk merealisasikannya. Jangan  munculkan di benak Anda bahwa yang disebut jadi pemimpin adalah Presiden dan para menterinya, para mahasiswa-mahasiswa yang telah memegang jabatan tertentu dikampus, para wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat, para pejabat pemerintahan, para ketua lembaga ataupun para direktur, dll. Ketahuilah suatu organisasi atau masyarakat yang mempunyai segelintir pemimpin yang baik akan mengalami kemunduran. Adalah lebih sehat dan produktif untuk mulai dengan asumsi bahwa adalah mungkin bagi setiap orang untuk memimpin. Jika kita menganggap bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dan merupakan kepentingan semua orang, kita akan menemukan banyak pemimpin yang baik yang sebenarnya.

 

Untuk para mahasiswa, kepemimpinan dapat ditunjukkan atas nama lembaga formal maupun informal, dalam kampus atau diluar kampus; Dewan Mahasiswa dan berbagai unit kegiataannya, DKM, Himpunan Mahasiswa, Kelompok Belajar dan Penelitian, Wadah Usaha, Koperasi, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), Pencinta Alam, Kegiatan Seni, Forum Diskusi,dll.

 

Untuk para pemuda, kepemimpinan dapat ditunjukkan atas nama yayasan, lembaga pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, RT, RW, Kepala Desa, DKM, perkumpulan remaja, karang taruna,dll.

 

Tunjukkanlah kepemimpinan Anda dalam berbagai bentuk organisasi lainnya yang bermanfaat dan positif serta organisasi baru yang akan anda dirikan dengan teman-teman sekalipun, jiwa visi Anda belum terwakili oleh organisasi yang ada. Minimal  tunjukkanlah kepemimpinan Anda pada diri Anda.

 

“Semua kamu adalah pemimpin dan seluruh pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya atas apa yang ia pimpin. Imam (presiden, raja) adalah pemimpin danbertanggung jawab atas rakyatnya. Suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas keluarganya itu. Istri adalah pemimpin di rumah tangganya dan bertanggung jawab atas rumah tangganya itu. Pembantu adalah pemimpin bagi harta tuannya dan bertanggung jawab atasnya. Dan kalian semua adalah pemimpin serta bertanggung jawab atas semua yang dipimpinnya (HR Bukhari & Muslim)[10]

 

Khusus untuk para pemimpin Indonesia saat ini, apakah kalian tidak malu oleh Mellisa Poe untuk tidak bergantung pada seorang Bush, namun lebih mengandalkan akan kemampuan sendiri dalam merealisasikan apa yang menjadi visinya. Selama ketergantungan masih  tinggi jangan harap label pemimpin sejati ada pada kalian., Tunggulah roda zaman akan menggilas seperti pemimpin-peminpin Indonesia sebelumnya dan memperpanjang daftar pemimpin bangsa Indonesia yang gagal. Kalaupun kalian tak mampu untuk mandiri, maka berilah ruang dan waktu kepada para pemuda dan mahasiswa untuk “mempersiapkan diri” agar dapat menjadi  generasi baru yang akan menjadi para pemimpin masa depan Indonesia di abad 21, jangan dikerdilkan dan diberi citra negatif, beri kesempatan mereka berkarya dan belajar kepemimpin dalam setiap organisasinya, agar kelak mereka mampu menjadi para pemimpin sejati yang akan merubah wajah bangsa Indonesia, kalau perlu wajah dunia.

 

Namun, wahai pemuda dan mahasiswa! Janganlah hal diatas menjadikan Anda menunggu uluran tangan dan kesempatan dari pemimpin yang ada sekarang. Mereka mempersiapkan atau tidak, Anda harus terus melakukan persiapan dan membuka kesempatan sendiri. Artikel ini menulis tentang persiapan pemuda untuk menjadi pemimpin masa depan, kata “persiapan” ini sangatlah penting, karena selama ini yang sering ada adalah “mempersiapkan”, dimana hal tersebut menunjukkan bahwa pemuda hanyalah menjadi objek, dengan perubahan menjadi “persiapan“ menunjukkan pemuda sebagai subjek. Dengan kata lain para pemuda dan mahasiswa harus menciptakan sendiri ruang dan waktu serta lebih mengantungkan kepada kemampuannya dibandingkan kepada pihak lain yang bisa jadi membawa pesan terselubung sehingga para pemuda tidak lagi independen. Semangat untuk meningkatkan jiwa kepemimpinan pemuda relevan dengan peringatan sumpah pemuda yang sebentar lagi akan banyak diperingati.

Mudah-mudahan 28 Oktober 2001 ini dapat menjadi titik awal menuju kepemimpinan Indonesia, kalau perlu kepemimpinan dunia di abad 21. “Siapa takut ?”.



[1] Creator Team Leader LSM CREATORIUM.

[2] Stephen P. Robbins, Organizational Behavior, Prentice Hall,1993.

[3] The Drucker Foundation (Douglas K Smith), The Leader Of The Future (Pemimpin Masa Depan), Elex Media Komputindo, 1997, hal 201.

[4] Hasil riset penulis saat menjadi External Consultant ILO untuk menganalisa budaya pelatihan di Industri yang ada di Indonesia.

[5] Agus Dharma, Kepemimpinan Efektif, Makalah Pelatihan Binamind.

[6] Asep Chaeruloh, Laporan Pertanggungjawaban Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi Proyek JPS (P3T & PMDK) Jawa Barat, 1999.

[7] William A Cohan, The Art Of The Leader,

[8] Organisasi yang belajar adalah organisasi yang memungkinkan para anggotanya tumbuh dan berkembang. Cirinya adalah organisasi tersebut menjadi pembelajaran sebagai sesuatu yang strategis dalam kebijakannya, contohnya dengan dijadikannya budaya belajar dan pelatihan dijadikan salah satu ukuran strategis  keberhasilan organisasi

[9] James M.Kouzes & Barry Z.Posner, Tujuh Pelajaran Penting untuk Memimpin Perjalanan ke Masa Depan. Op.cit.

[10] Sanadnya dari Abdullah bin Umar r.a. (DR.Ali Abdul Halim Mahmud, Fikih Responsibilitas, Gema Insani Press,1998)

 

Indonesia Memerlukan Kuda Perang II

Indonesia Memerlukan Kuda Perang II

 

Prinsip dan Sumber Keunggulan

Tentunya dari setiap kemenangan dan kekalahan selalu ada yang melatarbelakanginya, dan inilah hal selanjutnya yang perlu kita sadari setelah kita menyadari posisi lemah performance atau kinerja bangsa kita.

 

Telah dikalahkan bangsa Rumawi dinegeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allahlah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan dihari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah…(QS 30:2-5).

 

Bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam yang mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah, tentunya harus mau belajar pada kisah sukses yang tersebut diatas, dan sebenarnya bukan hanya mau, tapi seharusnya sudah menjadi kewajiban untuk mentauladaninya. Banyak sudah berbagai strategi dan upaya yang dilakukan untuk mengejar keterpurukan bangsa ini, sejak era penjajah sampai sekarang era reformasi, tapi sejauh ini hasilnya belumlah nampak mengembirakan. Dari penjajahan bangsa lain dilanjutkan dengan pejajahan oleh bangsa sendiri. Orde lama dengan politik sebagai panglimanya tidak mampu mengangkat nasib bangsa ini, begitupun orde baru dengan perekonomian sebagai panglimanya belum mampu membawa bangsa ini mencapai cita-citanya yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Diawal era reformasi bangsa inipun belum mampu memunculkan solusi untuk mengatasi keterpurukan, malah terlihat indikasi yang negatif dan dikhawatirkan akan terpuruk pada krisis multi dimensi kedua.

 

Penulis dan tentunya semua elemen bangsa harus bertanya ada apakah gerangan dengan berbagai upaya bangsa ini, sudah tepatkan formula sukses yang dipakainya. Adakah yang kurang tepat dengan berbagai upaya yang telah dilakukan?

 

Bangsa Indonesia dengan mayoritas penduduknya adalah umat Islam yang menyatakan sebagai kekuatan kebaikan, namun dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegaranya tidak mendasarkan pada kekuatan kebaikan itu sendiri, Kebaikan tidak dijadikan sebagai panglima. 

 

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim pada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.(QS.30:9).

 

“Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang  benar) (QS 30:41)

 

Kinerja Mayoritas Masyarakat Indonesia

Ukuran kinerja yang adil dari suatu bangsa biasanya merupakan rata-rata dari kinerja orang-orang yang hidup dalam bangsa tersebut. Sehingga kinerja suatu bangsa tergantung dari kinerja mayoritas masyarakat Indonesia, ketika kinerja suatu bangsa yang baik namun ternyata rata-rata dari kinerja orang-orang yang hidup dalam bangsa tersebut rendah, maka biasanya kinerja yang baik tersebut hanyanya kamuflase dan bisa jadi hanya merupakan sukses jangka pendek. Kondisi tersebut sama dengan kondisi Indonesia pada masa orde lama dan orde baru, dimana Indonesia pernah mengalami pengaruh yang kuat dan cukup disegani pada masa orde lama, dan Indonesia pernah pula mengalami pertumbuhan perekonomian yang tinggi dan termasuk negara yang diperhitungkan, namun kenyataan masyarakatnya secara rata-rata masih banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan. Kondisi tersebut terjadi karena kinerja unggul bangsa Indonesia tersebut merupakan kinerja dari sebagian kecil masyarakat Indonesia bukan mayoritas masyarakat Indonesia, misalnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada saat orde baru sebenarnya hanya merupakan kinerja dari para konglomerat Indonesia.

 

Karena ukuran kinerja suatu bangsa yang sebenarnya adalah rata-rata dari kinerja yang hidup di bangsa tersebut, maka biasanya tergantung pula dari kinerja mayoritas masyarakat yang hidup dibangsa tersebut. Penekanan hal ini sangatlah penting bagi umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia untuk membuka mata hati dan pikiran akan kondisi sebenarnya dari bangsanya yang tergantung dari mereka sebagai umat yang mayoritas di Indonesia. Kesadaran sebagai mayoritas harusnya memberi semangat untuk memberikan yang terbaik untuk bangsanya, karena citra dirinya sebagai umat islampun berarti dipertaruhkan.

 

Kita harus jujur bahwa dengan lemahnya kinerja bangsa Indonesia menunjukkan bahwa kinerja mayoritas masyarakatnya lemah juga, hal tersebut juga menunjukkan bahwa kinerja orang-orang yang menganut ajaran Islam termasuk lemah. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa kinerja suatu bangsa tergantung pula dari kinerja orang-orang yang hidup didalamnya. Jika orang yang hidup didalamnya lemah, maka lemah pulalah bangsa tersebut.

 

Kejujuran akan lemahnya kinerja mayoritas masyarakat Indonesia akan membawa kepada suatu pertanyaan “mengapa”, karena semuanya mengetahui bahwa dikatakan umat Islam adalah umat terbaik, tapi kenyataannya berbicara lain bahwa umat Islam di Indonesia mempunyai kinerja yang lemah. Mengapa ?, untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu melihat unsur-unsur apa saja yang dapat membuat seseorang berkinerja dengan baik.

Baik atau tidaknya kinerja seseorang tergantung dari Motivasi, Kemampuan dan Kesempatan. Kinerja yang baik akan muncul jika terdapat ketiga unsur tersebut, ketika salah satunya tidak ada maka tidak akan pernah muncul kinerja yang baik. Kinerja yang baik tersebut dapat kita lihat dari pencerminan Kuda Perang sebagai berikut:

 

Demi kuda perang yang berlari kencang dengah terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba diwaktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ketengah-tengah kumpulan musuh. (QS 100:1-5).

 

Ayat tersebut menunjukkan kinerja seseorang yang mempunyai motivasi yang kuat, ditunjukkan dengan berlari dengah terengah-engah yang berarti tidak mudah menyerah, mau bekerja keras. Menyerbu ketengah-tengah musuh menunjukkan keberanian dan cita-cita yang tinggi, berani mengambil resiko Pukulan kakinya yang mampu memancarkan api dan menerbangkan debu menunjukkan kemampuan yang maksimal serta menyerang musuh diwaktu pagi hari menunjukkan persiapan yang matang dan pemahaman yang kuat akan arti penting kesempatan

 

Kinerja   = Fungsi ( Motivasi, Kemampuan, Kesempatan )

   = Motivasi X Kemampuan X Kesempatan

 

 

 

 

 

 

Kesadaran terhadap perlunya perbaikan secara simultan pada ketiga hal yang berpengaruh terhadap kinerja sangatlah penting dalam upaya perbaikan. Dengan demikian Indonesia sebenarnya membutuhkan kuda perang untuk memperbaiki kinerjanya dan mengejar ketinggalannya dengan cara seperti tergambar pada ayat diatas.

 

Hasil kinerja mayoritas masyarakat Indonesia yang kurang memuaskan terjadi dikarenakan tidak adanya ketiga unsur tersebut secara sekaligus, sehingga jika berdasarkan proses maka sebenarnya lemahnya kinerja bukan mutlak sebagai kelemahan dari masyarakat mayoritas Indonesia.

 

Mayoritas masyarakat Indonesia pada orde baru sebelumnya mengalami kepribadian ganda dalam hal motivasi, karena berkaitan dengan keyakinan atau ideologi terdapat dua keyakinan yang dimasukkan kedalam diri mereka, terdapat kontradiksi antara aturan yang berasal dari agamanya dan aturan yang berasal dari negara. Dalam tipe jenis manusia yang demikian ini disebut dengan orang sakit, mereka terpaksa mengikuti aturan yang umum dengan harus mengorbankan aturan yang diyakininya, keterpaksaan tersebut tentunya tidak akan memunculkan semangat yang melimpah, mudah menyerah, tidak menjiwai setiap urusannya.

 

Dalam hal kemampuan, mayoritas masyarakat Indonesia sebenarnya mempunyai dasar yang kuat untuk memiliki kemampuan, banyak tokoh cendekiawan, bayak praktisi yang sebenarnya tidak kalah jauh dengan tokoh-tokoh lainnya, walaupun jika dibandingkan dengan berbagai tokoh internasional masih tertinggal, namun sebenarnya jika dikembangkan lebih lanjut banyak yang mampu bersaing, hal tersebut menunjukkan bahwa  kemampuan yang ada masih berupa potensi dan perlu diasah lagi lebih lanjut.

 

Unsur lainnya yang sangat dominan berpengaruh terhadap lemahnya kinerja mayoritas masyarakat Indonesia adalah masalah kesempatan.  Mayoritas masyarakat Indonesia yag mempunyai kekuatan ataupun potensi yang sebenarnya bagus dan mempunyai motivasi yang kuat jarang atau hampir mendekati tidak pernah diberi kesempatan untuk menunjukkan kinerja yang sebenarnya, mereka yang mempunyai pribadi ungul dari mayoritas masyarakat Indonesia malah diangap sebagai ekstrim kanan dan dibenturkan dengan hukum, dampak tersebut menyebabkan terjadinya phobia terhadap Islam, setiap yang berbau Islam sepertinya harus dihindari dalam berbangsa dan bernegara. Orang-orang Islampun yang mempunyai potensi yang baik banyak yang seakan malu dan berusaha untuk tidak menampilkan keislamannya agar karir hidupnya dapat berjalan dengan lancar dan cepat.

 

Berbeda dengan masa reformasi, dimana banyak tokoh Islam yang muncul dalam panggung berbangsa dan bernegara ini, namun sayang sampai saat inipun kinerjanya tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Walaupun kesempatan sudah dibuka lebar namun unsur yang lainnya tidak dimunculkan, dalam hal motivasi tidak banyak dilakukan perubahan, kemampuan menjalankan prinsip yang dianutpun masih dipertanyakan dari para tokoh muslim yang tampil. Kitapun dapat bertanya apa benar Gusdur dapat dijadikan sebagai tokoh yang mewakili mayoritas masyarakat Indonesia ?. Karena seperti kita ketahui banyak sekali kontradiksi-kontradiksi yang dilakukannya.

 

 

Key Performance Indicator Pemerintahan

 

Di Indonesia pernah terjadi pertentangan politik antara yang mendukung Gusdur dan yang menentang GusDur dari jabatan presiden. Bagi para pendukungnya GusDur telah mampu berkinerja dengan baik, sedangkan orang-orang yang menyuruhnya mundur mengatakan bahwa kinerja Gusdur sangatlah buruk. Pertentangan tersebut terus bergulir dan tidak penyelesaiannya karena masing-masing menggunakan paradigma indikator kinerja yang berbeda dan tidak jelasnya indikator kinerja pasa prosesnya, sehingga para penentang Gusdurpun kesulitan untuk membuktikan kegagalan pemerintahan Gusdur.

 

Para pendukung GusDur mengatakan bahwa penilaian terhadap pemerintahan Gusdur harus dilihat nanti setelah masa jabatan presiden berakhir yaitu 2004, disanalah dapat ditentukan kinerjanya baik atau buruk, menurut mereka penilaian tidak dapat dilakukan karena sekarang masih dalam proses. Para pendukung Gusdur menggunakan paradigma Key Performance Output (KPO), yaitu penilaian kinerja pada hasil akhir. Sedangkan dilain pihak para penentang Gusdur menggunakan paradigma Key Performance Driver(KPD), yaitu penilaian kinerja pada hasil proses.

 

Dalam Process Management, penilaian kinerja (Key Performance Indicator) harus terdiri dari    KPO dan KPD. Mengandalkan pada KPO saja hasilnya tidak akan baik , karena KPO merupakan lag indicator yaitu penilaian terhadap sesuatu yang sudah terjadi (hasil akhir) sehingga lebih terlambat untuk melakukan perbaikannya. Dengan demikian perlu ditambahkan KPD yang merupakan lead indicator yaitu penilaia terhadap sesuatu yang bukan hasil akhir sehingga belum terlambat (lebih cepat) untuk diperbaikinya. Pembahasan mengenai hal ini mungkin akan dibahas lebih lanjut pada artikel yang yang lainnya, namun yang terpenting dari uraian diatas adalah masih lemahnya indikator atau ukuran kinerja bangsa kita sehingga tidak ada kejelasan untuk menyelesaikan masalah bangsa ini.

 

Dalam bukunya Balanced Score Card, Robert S. Kaplan dan David P.Norton (1996) menyatakan “ Jika Anda tidak dapat mengukurnya Anda akan menemukan kesulitan untuk mengelolanya”. Buku tersebut berbicara tentang perlunya pengukuran yang lebih terpadu dari suatu perusahaan dengan tidak hanya mengandalkan aspek ukuran finansial. Untuk berhasil dan tumbuh dalam persaingan abad informasi, perusahaan harus menggunakan sistem pengukuran dan manajemen yang diturunkan dari strategi dan kapabilitas yang dimiliki perusahaan.

 

Jika dianalogikan dengan suatu negara, maka mengukur kinerja suatu negara tidaklah cukup hanya mengukur dengan ukuran ekonomi atau materi. Perubahan atau penambahan ukuran kinerja harus disesuaikan dengan strategi dan kapabilitas yang dimiliki oleh negara tersebut. Namun walaupun ada perubahan dalam ukuran kinerja suaatu negara bukan berarti bahwa ukuran ekonomi atau materi lantas diabaikan, namun dilengkapi dengan ukuran-ukuran lainnya yang lebih luas dan terpadu.

 

Pembahasan mengenai mengapa kinerja mayoritas masyarakat Indonesia lemah akan membantu dalam dua hal. Pertama, meluruskan tentang kontradiksi antara umat Islam sebagai umat yang terbaik dengan kenyataan umat Islam Indonesia yang bagaikan buih. Jika kita hanya melihat hasil akhirnya (Key Performance Output) saja maka kontradiksi itu seakan sangatlah jelas, namun sebenarnya kitapun perlu melihat prosesnya (Key Performance Driver) agar penilaian kinerjanya (Key Performance Indicator) menjadi lebih objektif. Kedua, memberikan kesempatan dan arahan kepada minoritas bagaimana kontribusi mereka agar bangsa Indonesia ini dapat maju, itupun akan berhasil jika sebelumnya minoritas mengetahui bahwa kinerja bangsa Indonesia akan baik jika kinerja mayoritas masyarakat Indonesiapun mempunyai kinerja yang baik pula, sehingga terjadi sinergis untuk memajukan bangsa Indonesia ini. Dan diharapkan minoritas masyarakat Indonesia dapat menyadari bahwa untuk memajukan bangsa ini bukan dengan cara merubah jumlah mereka dari minoritas menjadi mayoritas (mempengaruhi agar berpindah keyakinan).

 

 

Asumsi Kinerja Bangsa Indonesia

 

Menghadapi keterpurukan dan krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia penulis meyakini bahwa penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan melakukan perbaikan sedikit demi sedikit, namun memerlukan perubahan yang besar dengan diikuti oleh pengelolaan proses yang baik.

 

Perubahan yang besar tersebut dilakukan pada hal-hal strategis dalam kehidupan suatu bangsa dan bukan pada hal-hal operasional suatu bangsa. Karena jika mengandalkan pada hal-hal yang operasional suatu bangsa akan menyebabkan tetap tertinggal dan tidak akan mampu unggul dibandingkan dengan bangsa lainnya.

Hal yang cukup strategis untuk diperhatikan perubahannya dari bangsa ini adalah masalah perbaikan pada prinsip bangsa. Pelaksanaan prinsip yang ada sekarang ini yang menjadi landasan untuk mengembangkan bangsa Indonesia sudah beberapa kali membuktikan tidak mampu mengantarkan bangsa Indonesia ke puncak kejayaannya.

Upaya pelaksanaan prinsip sudah dilakukan, namun prinsip-prinsip bangsa yang ada tersebut tidak mampu ditangkap dengan baik oleh masyarakat, dan tidak menjadi  jiwa dari kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia.

 

Mengamati penomena diatas, terdapat beberapa kemungkinan yang melandasinya, yaitu:

·        Kurang cocoknya prinsip yang dicanangkan di Indonesia dengan prinsip yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

·        Lemahnya kinerja bangsa Indonesia melaksanakan prinsip yang dicanangkan di Indonesia. 

·        Ketidakcocokan prinsip yang dicanangkan dan ketidakmampuan masyarakat Indonesia untuk merealisasikan suatu prinsip.

 

Ketiga landasan tersebut dapat dijadikan asumsi untuk mengembangkan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik dalam tingkat yang sangat strategis.

Asumsi 1.  Jika prinsip yang dicanangkan di Indonesia sudah sesuai atau tidak bertentangan dengan prinsip yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia, maka perubahan dalam ruang lingkup strategis dapat dilakukan pada kinerja bangsa Indonesia dalam melaksanakan suatu prinsip.

Asumsi 2.     Jika prinsip yang dicanangkan di Indonesia tidak sesuai dengan prinsip yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia padahal sebenarnya masyarakat Indonesia mempunyai kemampuan untuk merealisasikan suatu prinsip, maka perubahan dalam ruang lingkup strategis dapat dilakukan dengan melakukan perubahan pada prinsip yang dicanangkan

Asumsi 3.        Jika prinsip yang dicanangkan tidak sesuai dengan prinsip mayoritas masyarakat Indonesia ditambah dengan adanya ketidakmampuan masyarakat Indonesia atau lemahnya kinerja dalam merealisasikan suatu prinsip, maka perubahan dalam ruang lingkup strategis suatu bangsa harus dilakukan dalam kedua hal tersebut.

 

Asumsi mana yang digunakan harus dilanjutkan dengan penelitian yang lebih jauh di masyarakat. Namun berdasarkan pengamatan dan wawasan yang penulis miliki hasil diskusi dengan berbagai pihak, penulis cenderung menggunakan asumsi yang ketiga, yaitu  bahwa di Indonesia  terdapat ketidakcocokan prinsip yang dicanangkan dengan prinsip mayoritas masyarakat Indonesia dan ketidakmampuan masyarakat Indonesia untuk merealisasikan suatu prinsip.

 

Penulis cenderung pada asumsi yang ketiga, karena selama ini asumsi yang pertama dan kedua sudah pernah dilakukan. Beberapa pengamat pernah menyampaikan bahwa prinsip yang dicanangkan oleh Bangsa Indonesia tidak bertentangan dengan prinsip mayoritas masyarakat Indonesia, menurut mereka yang ada adalah lemahnya kinerja masyarakat Indonesia dalam merealisasikan prinsip yang dicanangkan. Berdasarkan asumsi tersebut pada era orde baru, sudah banyak dilakukan upaya keras untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan prinsip yang dicanangkan oleh mayoritas masyarakat Indonesia, namun ternyata hasilnya tidak memuaskan, padahal dana dan sumber daya lainnya yag telah di investasikan untuk hal tersebut cukup besar misalnya dengan P-4, Sepertinya kegiatan P-4 tersebut tidak memberi dampak signifikan karena semua yang disampaikan tidak sampai masuk menjadi suatu keyakinan (motivator). Ketidakefektifan tersebut terjadi karena masyarakat mengalami split personality atau kepribadian ganda sebagai akibat masuknya dua prinsip berbeda dalam dirinya. Dan split personlity merupakan suatu penyakit, dimana orang yang mengalaminya tidak akan mampu menunjukan kinerja yang baik. Dalam prinsip yang dicanangkan di Indonesia harus mengikuti hukum yang ada di Indonesia yang merupakan hukum buatan manusia, dilain pihak mayoritas penduduk Indonesia mengetahui bahwa satu-satunya hukum yang harus diikuti adalah hukum-hukum dari Tuhannya, terutama pengetahuan tersebut banyak di kalangan terpelajar yang biasanya menjadi tumpuan untuk memunculkan  masyarakat unggul. Karena orang-orang yang menjadi tumpuannya mengalami kepribadian ganda wajar saja jika kinerja mayoritas masyarakat Indonesia masih lemah.

 

Giliran Prinsip Mayoritas Bangsa Indonesia

Setelah sekian lama bangsa Indonesia mencoba meningkatkan kinerjanya dengan prinsip yang belum selaras sepenuhnya dengan prinsip yang dimiliki mayoritas penduduknya, dan  hasilnya dapat dirasakan oleh kebanyakan rakyat yang tidak sampai pada apa yang dicita-citakan, yaitu masyarakat yang adil makmur. Merupakan keputusan  yang bijaksana jika memberi kesempatan kepada mayoritas bangsa Indonesia untuk mencoba memperbaiki kondisi bangsanya yang merupakan pencerminan citranya sebagai masyarakat muslim dengan melaksanakan prinsip-prinsip yang diyakininya, yang akan membawa kepada yang dicita-citakannya, apalagi sejarah kehidupan telah membuktikannya.

 

Upaya-upaya yang dilakukan untuk tidak pernah memberi giliran atau kesempatan kepada mayoritas pendudukan menggunakan prinsip yang diyakininya dalam bernegara dan berbangsa merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap demokrasi, namun sayang kekuatan informasi dan komunikasi kelompok yang  tidak menghendakinya mampu mengubah bentuk pelecehan demokrasi tersebut menjadi sesuatu yang baik dan patut dihargai, dan lebih jauh lagi adalah mereka mampu memutarbalikkan fakta bahwa orang-orang yang mau memperjuangkan prinsip mayoritas bangsa Indonesia sebagai orang yang tidak demokrat, orang yang tidak bijaksana, orang yang ekstrim kanan!

 

Wahai para pejuang bangsa Indonesia yang kami hargai akan upaya perbaikan bangsa yang telah dilakukannya, sadarlah bahwa apa yang  telah diupayakan dengan berbagai cara belum mampu menghantarkan bangsa ini mencapai cita-citanya, berbesar hatilah untuk memberikan giliran pada orang-orang yang akan memperbaiki bangsa ini sesuai dengan prinsip yang dimiliki mayoritas bangsa Indonesia.

Walaupun diakui bahwa kualitas dan pengalaman mereka masih minim namun mereka dapat mengandalkan keunggulan bersaing bangsa Indonesia dengan kuantitas muslimnya yang terbesar sebagai suatu bangsa dan pertolongan Allah yang akan turun karena ajaran-Nya dilaksanakan dengan baik.

 

Minimnya kualitas dan pengalaman mereka janganlah dijadikan alasan untuk tidak memberikan kesempatan, karena kapan mereka akan belajar sehingga meningkat kemampuan mereka dan kapan mereka akan berpengalaman jika tidak pernah mendapatkan kesempatan.

 

Untuk itu, mulailah mempersilahkan kepada ekonom muslim, pengusaha muslim, profesional muslim, pekerja muslim, politisi muslim, birokrat muslim dan mesyarakat muslim pada umumnya untuk berkontribusi lebih banyak dalam membangun bangsa ini sesuai dengan prinsipnya tanpa harus ditakuti dan diembel-embeli sebagai sektarian, ekstrem kanan, anti demokrasi, dll.

Kesediaan  untuk melakukan hal diatas merupakan bukti nyata bahwa para tokoh atau bapak-bapak yang sudah terbiasa ada dalam tampuk pimpinan merupakan pejuang bangsa dan tokoh demokrasi.

 

Kesediaan dari insan media masa untuk mengkomunikasikan hal diatas adalah bukti nyata bahwa demokrasi telah benar-benar tumbuh di dunia press atau media masa, agar tumbuhnya demokrasi di dunia press atau media masa tidak dibuktikan dengan semakin menjamurnya dan bebasnya press yang menampilkan pornografi yang bertentangan dengan prinsip mayoritas bangsa Indonesia serta menjadi salah satu penghambat turunnya pertolongan Allah.

 

Wallahu alam.

  

Indonesia Memerlukan Kuda Perang I

Indonesia Memerlukan Kuda Perang

Asep “Multi Trainer” Chaeruloh MM

 

 

Demi kuda perang yang berlari kencang…(QS.100:1)

 

Nasib bangsa Indonesia yang terpuruk merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh berbagai unsur bangsa dalam melakukan perbaikannya, tugas tersebut bukanlah tugas para pemimpin bangsa atau para elite politik saja, yang kadang membuat mereka bertarung memperebutkan kekuasaan.

 

Keprihatinan kita sebagai elemen bangsa harus semakin meningkat karena jangankan berbicara bagaimana menghadapi masa depan, menghadap masa lalu dan masa kini saja banyak sekali yang belum mampu diselesaikan. Bangsa-bangsa lain yang lebih maju sudah berpikir dan sibuk untuk menghadapi persaingan dimasa depan yang semakin ketat, bangsa kita masih terus berkutat dengan permasalahan masa lalu dan masa kini yang tidak terselesaikan. Kesadaran semua elemen bangsa bahwa bangsa kita sudah tertinggal jauh dengan bangsa-bangsa lainnya adalah awal yang baik untuk mulai memperbaiki kondisi sekarang dan masa depan bangsa ini.

 

Tidak ada kata terlambat walaupun kita sudah jatuh terpuruk dan tertinggal dari bangsa lainnya untuk memulai memperbaiki, sejarah telah mencatat banyak tentang bagaimana suatu bangsa atau masyarakat tertentu yang tertinggal dan lemah mampu bangkit dan mengejar ketertinggal dan lebih jauh lagi memimpin masyarakat lainnya. Karena prinsip kehidupan ini selalu terjadi pergeseran kekuatan dan kelemahan.

 

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali)….(AR Ruum:54)

 

Kita dapat membaca dalam sejarah bagaimana bangsa arab yang tertinggal dibandingkan dengan masyarakat lainnya terutama jika dibandingkan dengan bangsa besar saat itu , yaitu Romawi dan Persia. Melalui kepemimpinan Nabi Muhammad yang dibimbing dengan Wahyu dari Allah, bangsa Arab yang saat itu tertinggal dengan cepatnya mampu mengejar ketertinggalannya dan mampu mengalahkan bangsa lainnya dalam kurun waktu yang singkat. Kita pun dapat belajar dari sejarah tentang kisah kemenangan bangsa Rumawi (Ahli Kitab) atas bangsa Persia (Musyrik).

 

Kesadaran terhadap posisi bangsa yang tertinggal akan memberikan landasan berpijak untuk memulai melakukan perbaikan, pengetahuan kita tentang seberapa besar ketertinggalan akan membantu kita dalam menentukan strategi dan upaya seperti apakah yang harus dilakukan untuk keluar dari keterpurukan dan tumbuh kemudian memimpin peradaban. Kesalahan dalam kedua hal diatas akan berdampak pada ketidaktepatan upaya perbaikan bangsa yang dilakukan dan sulitnya untuk mengembangkannya menjadi lebih baik lagi.

 

 

 

Untuk memudahkan dalam memutuskan apa yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia dapat dilihat dari pemetaan kinerja sebagai berikut:

 

 

 

Waktu

Indonesia

Kinerja

    T                       T’

Bangsa lain

Kinerja Indonesia yang unggul dengan laju sangat tinggi

 

Kinerja bangsa lain dgn laju pertumbuhan lebih rendah dari Indonesia

 

Kinerja bangsa lain dengan laju tetap dan Kinerja Indonesia dengan laju  tinggi

 

 

 

 

Kinerja Indonesia dengan laju tetap

 

 

Kinerja Indonesia tanpa pertumbuhan

 

Penurunan Kinerja Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kinerja Indonesia pada waktu sekarang tertinggal jauh dari kinerja bangsa lain (Berdasarkan indikator kinerja yang bersipat material/ekonomi), dan dilihat dari kemungkinan kedepan Indonesia akan semakin tertinggal jauh jika terjadi penurunan kinerja karena dengan pertumbuhan kinerja yang tetap saja dari bangsa lain akan menyebabkan gap ketertinggalan bangsa Indonesia  semakin jauh lagi. Apalagi kalau kinerja bangsa lain mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi sedangkan bangsa Indonesia mengalami penurunan, dapat kita bayangkan berapa jauh ketertinggalan kita yang terjadi?.  Banyak skenario yang dapat kita susun untuk mengejar ketertinggalan tersebut, namun yang pasti perlu dicari skenario yang memungkinkan Indonesia menyusul ketertinggalan.

 

Terdapat dua jalan untuk menyusul ketertinggalan tersebut, yaitu jalan yang ada dalam kendali dan jalan yang diluar kendali manusia.

Berdasarkan jalan yang ada dalam kendali manusia, upaya untuk mengejar ketertinggalan tersebut tidak cukup hanya dengan pertumbuhan yang tetap namun diperlukan pertumbuhan kinerja yang sangat tinggi, kalau dibaratkan Indonesia tidak cukup berjalan tetapi harus  berlari kencang. Menurut hemat penulis faktor yang sangat kuat untuk mengejar ketertinggalan adalah motivasi, karena secara kemampuan dan kesempatan sebenarnya peluangnya hampir sama. Apalagi Indonesia mempunyai keunggulan sumber daya alam, namun sayang sumber daya tersebut tidak menjadi keunggulan karena tidak ditangani dengan motivasi yang baik, dimana pengelolaan tidak berdasarkan prinsip kebaikan.

 

Berdasarkan jalan yang diluar kendali manusia terdapat kemungkinan bahwa suatu bangsa atau negara tidak akan selamanya ada dipuncak, suatu waktu dengan bergulirnya waktu dan kekuatan takdir akan terjadi perubahan wajah dunia atau terjadi perubahan kepemimpinan peradaban. Faktor terakhir yang disebutkan yaitu pertolongan dari Alloh akan turun apabila manusia khususnya bangsa Indonesia mau menggunakan prinsip sebagai sumber keunggulannya, bukan ekonomi, bukan politik dan hakikat besar lainnya. Karena Indonesia dengan masyarakatnya yang sudah mengakui terhadap suatu prinsip namun belum mampu mengimplementasikannya merupakan potensi sumber keunggulan yang hakiki untuk dapat bersaing dan hal tersebut sudah dapat dibuktikan  dalam sejarah bagaimana bangsa yang besar dapat dikalahkan oleh bangsa yang kecil dengan kekuatan prinsip. Penggunaan prinsip sebagai dimensi strategis bersaing (Porter) tersebut perlu sekali diupayakan daripada Indonesia mengikuti dimensi strategis persaingan yang ada dimana sebenarnya Indonesia tidak mempunyai keunggulan atau sudah tertinggal jauh.

 

Menemukan dimensi strategis bersaing  yang baru akan menentukan dalam pemetaan persaingan serta merubah indikator kinerja. Hal tersebut membuat Indonesia dapat proaktif untuk membangun bangsanya dari pada harus mengikuti dimensi persaingan yang dipaksakan secara tidak langsung oleh bangsa lainnya yang besar, dimana mereka sudah mempunyai keunggulan dalam dimensi persaingan tersebut.

Sekali lagi, Indonesia punya potensi besar dalam menyusun dimensi persaingan yang baru degan sumber daya yang dimilikinya, dan bisa jadi pemetaan persaingan yang baru sebagai hasil dimensi strategis yang baru akan dapat membuat bangsa lain tertinggal dari Indonesia, karena bisa jadi dimensi persaingan yang baru tersebut adalah kelemahan bagi bangsa-bangsa yang besar. Menurut hemat penulis ada hal yang dapat diandalkan dalam dimensi persaingan yang baru yaitu prinsip kebaikan. Karena dengan prinsip tersebut kemungkinan untuk mendapatkan pertolongan Tuhan akan semakin besar.

 

Jika Indonesia mau mengandalkan hal tersebut, maka tidak akan terjadi kondisi seperti sekarang, dimana dalam dimensi persaingan yang dipakai dunia sekarang Indonesia sudah tertinggal jauh ditambah dengan berbagai musibah yang terjadi akibat tidak dilaksanakannya prinsip yang dimiliki oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

 

 

Dakwah Pada Era Dream Society

DAKWAH PADA DREAM SOCIETY

Ir. Asep Chaeruloh CQA MM*

 

 

Dalam buku “Dream Society - how the coming shift from information will transform your business” karya Ralf Jensen (1999) dari The Copenhagen Institute of Future Studies menyampaikan bahwa telah mulai terjadi pergeseran era dikehidupan ini yang diwakili dalam kehidupan bisnis, pergeseran tersebut terjadi dari era masyarakat informasi menuju era masyarakat mimpi yang mulai nampak dan menjadi fenomena yang menarik untuk dipelajari bagi bidang-bidang kehidupan lainnya salah satunya adalah berkaitan dengan masalah dakwah.

 

Sebelum membahas lebih lanjut tentang dakwah di era dream society perlu dibuat pembatasan terlebih dahulu dengan asumsi yang melatarbelakanginya.

1.       Bahwa perkembangan berbagai hal yang positif didunia bisnis biasanya berpengaruh terhadap bidang-bidang kehidupan lainnya termasuk didalamnya dalam bidang dakwah.

2.       Bidang bisnis biasanya selalu menjadi inovator dan bidang lainnya mengikuti

3.       Era tersebut masih akan bertahan lama dan belum berganti dengan era lainnya.

 

Ketiga asumsi perlu dibuat karena muncul juga fenomena bahwa akan muncul era masyarakat Islam (kebangkitan Islam) yang banyak di prediksikan oleh para ulama dunia akan dimulai dari Indonesia, prediksi tersebut terlepas dari kondisi krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia, karena Indonesia sekarang belum menggunakan sistem Islam dalam bernegara dan bermasyarakat. Umat Islam Indonesia mempunyai peluang untuk menerapkannya dan membuktikan bahwa sistem Islam adalah sistem terbaik yang akan menyelesaikan permasalahan kehidupan ini dengan lebih baik dan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam era masyarakat Islam asumsi yang pertama dan kedua tidak akan berlaku. Dalam era masyarakat Islam, yang mewarnai kehidupan bukan bisnis namun nilai-nilai religiuslah yang mewarnainya termasuk juga mewarnai bisnis serta yang menjadi inovatornya adalah bidang dakwah.

 

Pergeseran ke era masyarakat islam tersebut masih merupakan harapan dan sesuatu yang sedang diupayakan, sedangkan era masyarakat mimpi sudah mulai terjadi dan mau tidak mau kita sudah hidup di dalamnya sehingga menghadapi masyarakat yang demikian dakwahpun perlu mempertimbangkan hal tersebut dan melakukan strategi agar dapat memanfaatkan era tersebut untuk kepentingan dakwah.

 

Dalam era masyarakat informasi, masyarakat dilihat sebagai makhluk yang rasional, obyektif dan logis. Sedangkan dalam era masyarakat mimpi masyarakat dilihat sebagai makhluk yang emosional, produk dilihat sebagai hal sekunder, mereka lebih mengutamakan cerita dibalik produk.

Dalam masyarakat mimpi terdapat 6 (enam) profil pasar dengan karakteristiknya yang spesifik yaitu : Petualangan, Kebersamaan, The market for care (pemeliharaan), Who-am-I market (es-teem value),  The market for peace of mind, The market for convictions.

 

Karakteristik dari keenam profil tersebut dapat digunakan sebagai strategi pendekatan bagi dakwah untuk dapat mempengaruhinya atau dapat digunakan sebagai jembatan untuk menuju masyarakat Islam (kebangkitan Islam). Karena kalau dilihat berdasarkan kacamata Islam yang menggunakan pendekatan menyeluruh dari semua aspek , proses pergeseran tersebut hanyalah proses  sementara masyarakat yang mencoba untuk mencari  kebenaran hakiki yang sesuai dengan fitrahnya, dimana selama ini proses pencarian tersebut belum sampai dan terus bergantian dari pendekatan satu ke pendekatan lainnya.  Dengan demikian diperlukan jembatan-jembatan yang dapat menghubungkan berbagai pendekatan tersebut agar dapat berinteraksi tanpa terlebih dahulu merasa berbeda. Karena ketika muncul perbedaan dari sejak proses awal akan muncul resistant to change yang bisa jadi menjadi bibit kedengkian yang akan menghambat bagi tersalurkannya cahaya Islam kepada mereka, sebagaimana kedengkian masyarakat yahudi.

 

Pendekatan

Rasional,

 Logis &

Objektif

 

            Pendekatan

 Emosional

Masyarakat
Islam

 Proses pergeseseran sebagai strategi

Masyarakat

Informasi

Masyarakat  Mimpi

Pendekatan Menyeluruh

Proses penggabungan sebagai strategi

Proses interaksi sebagai strategi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendekatan yang mencoba untuk ikut memperhatikan perkembangan era masyarakat  yang ada sekarang dan mencoba untuk berinteraksi serta mempengaruhinya dengan pendekatan yang sesuai dengan profil yang ada di masyarakat yang akan dipengaruhi adalah merupakan taktik dan strategi bukan merupakan suatu prinsip. Suatu strategi dan taktik biasanya akan mengalami masa kadaluarsa karena tergantung pada dimensi tempat dan waktu.

Terciptanya kesempatan interaksi dari berbagai pendekatan tanpa dilandasi kedengkian adalah jalan kemenangan bagi umat Islam untuk membuktikan diri sebagai pendekatan yang menyeluruh yang akan menyelesaikan berbagai masalah kehidupan.

Pembahasan selanjutnya akan mendiskusikan lebih jauh tentang taktik dan contoh nyata yang dapat dilakukan oleh aktivis dakwah dalam menghadapi masyarakat mimpi. 

 

Bentuk masyarakat sebagai strategi dan taktik musuh Islam

 

Peradaban dunia yang dikuasai oleh  musuh Islam memungkinkan mereka dapat melakukan berbagai rekayasa strategi dan taktik untuk memperpanjang kekuasaannya dan me    nghambat kebangkitan Islam dan kalau perlu menghancurkan umat Islam. Salah satu strategi yang sering digunakan dan dibahas dalam Al Quran adalah mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lainnya (tidak menampilkan dan menerima secara menyeluruh) sehingga terbentuklah masyarakat yang setengah-setengah dalam kebenaran. Mereka berupaya  untuk mensosialisasikan dan membentuk bermacam masyarakat yang mementingkan beberapa aspek dan meninggalkan aspek lainnya, karena mereka mengetahui bahwa Islam tidak akan bangkit jika dibangun oleh masyarakat yang tidak kaffah, diantaranya dengan mengangkat masyarakat Informasi yang rasional, logis dan objektif yang memang pada saat tersebut umat islam sedang lemah dalam aspek tersebut. Dalam merealisasikannya mereka melakukan offensive tactic baik yang berupa antisipasi (anticipatory tactics) yaitu menhindari bersaing secara berhadapan langsun maupun berhadapan langsung (tactics of engagement). Penggunaan berbagai taktik biasanya disesuaikan dengan kekuatan yang mereka miliki disetiap wilayah, namun yang pasti secara umum dengan sumber daya yang berkualitas memungkinkan mereka untuk melakukan attack secara frontal assault (menyerang musuh secara langsung pada aspek-aspek penting dari musuh) maupun melakukan attack  secara siege warfare (menyerang secara simultan di berbagai front) seperti yang sudah dilakukan dalam membentuk suatu masyarakat informasi.

 

Ketika umat islam mulai bangkit dan bisa menjawab tantangan bahwa islampun merupakan suatu yang dapat pula didekati secara logis, objektif dan rasional. Selanjutnya musuh Islam berusaha melakukan anticipatory tactic Preemption yang merupakan upaya proaktif dengan menjadi yang pertama dalam menghindari persaingan. Taktik preemption yang digunakan biasanya  berupa pioneering dengan membentuk suatu masyarakat lain yang sekarang sedang mulai tumbuh berkembang yaitu masyarakat mimpi yang lebih memperhatikan masalah emosional. Bagi umat Islam pengarahan menjadi masyarakat mimpi adalah suatu bentuk strategi yang perlu disikapi dengan mempersiapkan strategi dan taktik yang tepat untuk menghadapinya ataupun lebih baik  lagi memanfaatkan kondisi tersebut.

 

Mengakomodasi adanya masyarakat mimpi merupakan salah satu  defensive tactic dan anticipatory tactic yang dapat disebut sebagai deterrence (mempengaruhi perhitungan musuh atau pesaing tentang apa yang dapat mereka raih dari melakukan penyerangan), hal tersebut akan efektif dan efisien jika taktik yang dipakai musuh atau pesaing belum terlambat untuk diantisipasi. Deterrence tactics yang dapat dilakukan oleh aktivis dakwah dan pimpinannya dalam menghadapi  digulirkannya masyarakat mimpi sebagai serangan terhadap umat islam adalah dengan melakukan diplomatic peace keeping (diplomasi menjaga perdamaian), lowering inducements for attack ( memperkecil dorongan untuk menyerang), increased expected retaliation  (meningkatkan harapan untuk membalas), raising structural barriers (meninggikan struktur penghambat).

 

Contoh penerapan taktik:

q      Diplomatic peace keeping (diplomasi menjaga perdamaian) diantaranya melakukan persetujuan agar terjadi pembatasan persaingan secara berhadapan langsung (saling menghancurkan) dan berupaya untuk saling berinteraksi dalam rangka saling membuktikan masyarakat mana yang sebenarnya lebih baik  dengan tetap menjaga perdamaian tanpa saling merusak.

q      Lowering Inducements for Attack (Mengurangi dorongan untuk menyerang) diantaranya dengan melakukan penyebaran dan penyampaian pesan perdamaian dengan diikuti gambaran dan konsekuensi kerugian bersama yang akan terjadi jika terjadi serangan

PREEMPTION                                  ATTACK

Pioneering                                            Frontal Assault
Intimidation                                          Flanking Maneuver

Capture                                                Siege Warfare
                                                            Guerilla Warfare

 

DETERRENCE                                 RESPONSE

Raising Structural Bariers                      Counter Attack

Increased Expected Retaliation Fast Follower
Lowering Inducements for Attack         Retrenchment
Diplomatic peace keeping                     Withdrawal

 

 

Offensive Tactics

 

 

 

Defensive Tactics

            Anticipatory Tactics          Tactics of engagement

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4 katagori taktik (Miller,1998)

 

 

 

Counter Attack umat Islam terhadap strategi masyarakat Informasi

Islam berhasil melakukan ”counter attack“ masyarakat informasi dengan berinteraksi dan melakukan proses islamisasi ilmu pengetahuan kemudian mulai melakukan pengembangan ilmu-ilmu Islam, sehingga umat Islam tidak dapat lagi digambarkan oleh musuh islam sebagai umat yang terbelakang. “Counter attack” yang dilakukan umat islam terlepas apakah itu sebagai hasil upaya ataupun karena pertolongan Alloh semata telah menunjukkan hasil yang baik karena pemilihan taktik yang tepat. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika umat islam melakukan anticipatory tactics berupa Diplomatic peace keeping (diplomasi menjaga perdamaian) padahal serangan era informasi sudah dirasakan dan memberikan dampak bagi kemajuan Isalam, tentunya umat Islam akan banyak yang tidak sadar dan selalu menjadiobjek.

Suatu counter attack yang telak bagi musuh islam salah satunya upaya dan keberhasilan yang dilakukan oleh Harun Yahya untuk mematahkan berbagai teori yang diagung kan peradaban sekarang, diantaranya teori Darwin.

Upaya Harun Yahya dan timnya ternyata tidak hanya counter attack terhadap strategi masyarakat informasi tetapi sekaligus juga menjadi pencerahan dan titik awal untuk  anticipatory tactics terhadap serangan strategi masyarakat mimpi.

 

Keterampilan Menghasilkan Mimpi

Dari semua paparan diatas terlihat bahwa diperlukan banyak hal yang harus diciptakan dan berkaitan dengan sesuatu yang baru atau sebagian baru yang berkaitan erat dengan emosi. Disinilah arti penting dari kreativitas dalam menunjang dakwah dan arti penting para seniman baik , musik, film maupun senirupa dalam berdakwah pada masyarakat mimpi, dengan kata lain diperlukan pengembangan keterampilan kreativitas dan seni untuk para aktivis dakwah karena musuh Islam sudah tidak hanya menyerang dengan masyarakat informasinya namun sudah mulai dengan masyarakat mimpi dengan sentuhan emosinya. Dapat kita saksikan bagaimana membanjirnya ibu-ibu dalam menyaksikan sinetron dan kadangkala terhanyut dan ikut menangis, bagaimana terpengaruhnya para remaja kita dengan berbagai mode yang muncul dari para selebritis, bagaimana menjadi tren bagi para pemuda untuk ke diskotik dan pergi ke café-café untuk sekedar bersantai-santai, bagaimana masyarakat kita yang mau mengkonsimsi barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan namun yang penting bagi mereka dapat kebanggaan atau gengsi. Bagaimana meningkatnya layanan-layanan pemelihara kesehatan baik kulit, wajah, kebugaran dll, dengan konsumennya yang semakin membludak, bagaimana orang membeli sabun mandi bukan hanya agar tubuh mereka menjadi bersih namun mereka sebenarnya bermimpi ingin secantik para bintang iklannya, berapa banyak uang yang dikonsumsikan dalam rangka menjadikan dirinya seperti model yang menjadi pujaannya. Jawaban berbagai rangkaian pertanyaan tersebut merupakan jawaban bahwa disekitar kita sedang terbentuk suatu masyarakat mimpi, dimana mereka sudah banyak yang terbuai dan terbiasa.

Bagi para aktivis dakwah menghadapi fenomena tersebut tentunya perlu mendakwahinya dengan bijak dan kalau bisa tidak dengan segera menghilangan berbagai buaian mimpi yang mereka terima, namun dapat dengan mengantikan ataupun  mengarahkan mimpi-mimpi mereka ke arah yang lebih positif dan mendukung peningkatan keimannya.

 

Pengembangan keterampilan kreativitas, inovasi dan mengolah emosi objek dakwah bagi para aktivis dakwah merupakan sesuatu yang sangat perlu dan mendesak sebagai salah satu program karena penyampaian dakwah sebagai suatu bentuk  rasional, logis dan objektif tidaklah cukup lagi, karena masyarakat kita sudah banyak yang terbuai oleh mimpi-mimpi yang diberikan oleh musuh Islam dan diikuti dengan munculnya berbagai hasil karya yang memungkinkan mereka dapat mencapai mimpi-mimpi mereka menjadi suatu kenyataan.

Hal tersebut bukan berarti bahwa dakwah dengan pendekatan yang rasional, logis dan objektif telah kalah karena sampai saat ini di Indoensia dakwah sudah merebak  dan menjamur dikampus-kampus dan berbagai kalangan intelek. Keberhasilan tersebut tentunya perlu dilanjutkan lagi dalam masyarakat yang umum yang jumlahya lebih banyak.

 

Dulu ibu-ibu rumah tangga bermimpi kalau mengiris bawang tidak pedih matanya, namun sekarang hal tersebut sudah menjadi kenyataan bagi orang-orang yang berduit tebal dan masih merupakan mimpi bagi yang berduit kempis dan mimpi-mimpi tersebut semakin dekat dan seakan  sudah menjadi bagiannya walaupun tidak memilikinya, karena setiap hari barang tersebut hadir dan diperagakan cara dan berbagai kegunaan dan  keuntungan yang dirasakan melalui  iklan TV dan positioning yang canggih di otak para ibu-ibu

 

Ketika organisasi atau aktivis dakwah hanya mampu menghasilkan sesuatu yang sudah biasa dan tidak ada unsur mimpinya maka ia akan dipandang enteng oleh masyarakat yang sudah terbiasa terbuai mimpi, malahan akan dijauhi serta dianggap beban atau lebih jauh lagi sebagai pengganggu mimpi mereka sehingga interaksi antara objek dakwah dan pendakwahnya tidak terjadi, padahal interaksi adalah merupakan pintu awal untuk sampainya suatu dakwah.

 

Dengan dihasilkannya mimpi-mimpi juga yang berasal dari organisasi atau para aktivis dakwah maka disitu akan terbuka peluang untuk terjadi proses interaksi antara nilai-nilai islam dengan yang bukan islam dalam suasana yang sama-sama berbentuk mimpi, sehingga objek dakwah tidak merasakan adanya sesuatu yang  baru dan tidak muncul resistant to change dalam menuju kebaikan dan mengikuti jalan dakwah Islam.

 

Wallahu Alam. 

Melatih Kepedulian Diri-Self Care Training

SELF- CARE TRAINING

MELATIH KEPEDULIAN DIRI

Asep Chaeruloh AT.CQA.MM.

 

Pada era padatnya kesibukan dan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya kehidupan, kepedulian menjadi sesuatu yang langka dan sulit. Hiruk-pikuk, suara dan irama kehidupan berjalan sudah tidak alami lagi. Kejahatan, kesewenangan, pemaksaan, kebohongan menjadi menu hidup sehari-hari. Persaingan tanpa prinsip dan nilai telah banyak dipakai untuk menjadikan dirinya unggul. Orang sibuk mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain serta melakukan pembonsaian terhadap nilai persaudaraan dan cinta kasih, yang ada dibenaknya adalah bagaimana dirinya dapat hidup senang walaupun harus dengan menginjak-injak hak orang lain serta menimbulkan penderitaan secara kolektif. Semuanya berlalu tanpa terbendung dan menyebabkan kepedulian semakin tersudutkan dan tercampakkan dari kehidupan sehari-hari.

 

Orang kaya semakin kaya, orang berkuasa semakin berkuasa. Bangsa yang kaya semakin sejahtera dan melakukan penjajahan halus pada bangsa miskin dengan dalih bantuan. Orang dan bangsa miskin semakin terjerat dengan kebodohan dimana di dalamnya hidup pula orang kaya dan pintar tanpa disertai kepedulian. Ada kisah suatu negeri yang dilanda krisis multi dimensi sehingga banyak penduduknya dibawah garis kemiskinan dan telah tercatat pada notaris kehidupan untuk mewariskan hutang pada anak cucunya, kenapa “tercatat” bukan “mencatat” ? karena mereka tidak berencana, tidak menggunakan dan menikmatinya. Tidak perlu disebutkan Anda tentunya mengetahui nama negeri tersebut, sebuah negeri yang penjualan mobil mewahnya terbanyak di dunia, sebuah  negeri yang wakil rakyatnya memiliki kekayaan berlipat kali dari para rakyat yang diwakilinya, sebuah negeri yang para penguasa dan pejabatnya kebanyakan lebih sibuk memperkaya diri dan mengamankan kedudukannya daripada sibuk melayani rakyatnya.

 

Kepedulian semakin sulit ditemukan bukan hanya di tingkat makro, namun dilingkungan yang lebih kecilpun yaitu masyarakat dan keluarga yang sama juga  kehilangan nuansa kepedulian. Rumah kehilangan jiwanya, rumah kebanyakan hanya memenuhi fungsi fisik keluarga, tempat berteduh dari panas dan hujan, tempat tidur,dll. Anak-anak banyak yang menjadi yatim piatu secara hakikat, mereka mempunyai orang tua namun tidak pernah mendapatkan sentuhan hakikat orang tua bagi mereka. Rumah dan keluarga bagi suami-istri hanya menjadi simbol status mereka yang sudah menikah.

 

Dapat Anda bayangkan bagaimana nasib kepedulian di lingkungan usaha dan perusahaan yang kebanyakan memang menjadi tempat orang bersaing mencari keuntungan, tempat orang mengais rezeki, tempat orang saling sikut kiri-kanan dan tempat orang saling injak serta sundul memperebutkan karir atau jabatan. Sudah dapat dipastikan jika kita hidup di lingkungan demikian kebahagiaan hidup hanya akan menjadi mimpi, namun  kita tetap harus bersyukur karena masih memiliki mimpi kebahagiaan hidup dari pada tidak mempunyai kebahagian hidup sama sekali.

Tak terbayangkan oleh saya jika semua lingkungan saya baik keluarga, masyarakat, tempat kerja atau perusahaan serta bangsa semuanya gersang dari kepedulian. Dan saya khawatir bahwa sedikit-demi sedikit namun pasti semua itu mengarah menjadi kenyataan.

 

Menyadari situasi yang digambarkan diatas sudah layak rasanya kalau kita belajar dan melatih kembali kepedulian dan mencoba mempraktekkannya kembali disetiap segmen dan ruang lingkup kehidupan tanpa terkecuali, walaupun dapat dipastikan bahwa kita akan mengalami resiko ketidakbahagiaan sementara akibat ulah orang-orang yang tidak mempunyai kepedulian. Tapi kita harus yakin bahwa orang-orang pedulilah yang akan bahagia, sejarah dan pengalaman telah membuktikannya dan kita harus menjadi bagian sejarah dan pengalaman yang membuktikan tersebut agar masa depan kehidupan lebih terpedulikan.

 

Melatih kepedulian diri berarti membuat kita memperhatikan diri kita secara lebih. Semakin kita memperhatikan diri kita bukan berarti bahwa kita semakin egois, namun sebaliknya kita harus semakin peduli kepada orang lain dan lingkungan sekitar kalau memang kita peduli pada diri sendiri, karena pada dasarnya ketika kita tidak mempunyai kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan sekitar sama dengan kita tidak peduli pada diri kita sendiri. Kita harus ingat bahwa kepedulian adalah gerbang pemahaman diri dan lingkungan.

 

Melatih dan membiasakan kepedulian diri dapat Anda lakukan dengan menyediakan waktu untuk bermeditasi  individual maupun sosial. Meditasi individual adalah meditasi yang dilakukan secara menyendiri dan tidak melibatkan orang lain, sedangkan meditasi sosial adalah proses meditasi dengan cara berinteraksi langsung dalam kehidupan sosial. Melatih kepedulian dapat dilakukan dengan banyak jalan, tanpa mantra dan pemaksaan bentuk yang pasti bagaimana kita merasa peduli terhadap apa yang dirasakan, dilihat, didengar dan di pikirkan oleh kalbu kita dari diri dan lingkungan, ingat! oleh kalbu kita.

 

Melatih kepedulian terhadap lingkungan dapat dilakukan dengan kegiatan sederhana dan biasa namun sedikit mendapat sentuhan meditasi. menata bunga dengan penuh konsentrasi dan penghayatan yang dalam, dapat Anda lakukan sebagai salah satu bentuknya. Disitulah Anda dapat berusaha mencipta sesuatu tak berbentuk menjadi suatu bentuk, menyelaraskan bentuk-bentuk tersebut menjadi sesuatu yang indah dengan penuh kepedulian dengan tujuan untuk berinteraksi dengan alam lewat kecantikan bunga, rasa dan pikirkan dengan kalbu bahwa dengan kegiatan tersebut kedekatan Anda dengan Yang Maha Indah semakin dekat. Anda dapat melakukannya dirumah atau tempat lainnya, akan  semakin maksimal jika dilakukan di tempat yang masih alami, sejuk dan dipenuhi beraneka ragam bunga.

 

Melatih kepedulian dapat dilakukan juga dengan meditasi berjalan, sambil berkonsentrasi sederhana mencoba menguasai dan mengendalikan napas, pada saat menghirup dan mengeluarkannya dihayati dengan penuh kepedulian, bagaimana irama napas, berapa banyak napas yang tersedot dan terkeluarkan. Hasil nyata dari meditasi ini adalah berubahnya napas menjadi alat kewaspadaan diri sehingga lebih peduli pada diri dan lingkungan. Pada saat berjalan tak ada emosi yang terbuang, sedih, senang semua Anda rasa dan pikirkan dengan penuh kepedulian  sampai timbul perasaan dan pikiran dari kalbu akan energi kehidupan disetiap tarikan napas dan energi kematian disetiap hembusan napas, disitulah Anda belajar tentang kepedulian terhadap hidup Anda dan orang lain.

 

Melatih kepedulian dapat Anda lakukan pada setiap kegiatan dan tugas, dalam hal sederhana sekalipun seperti mencuci piring dan gelas, rasa dan pikirkan dengan kalbu bagaimana air menyentuh tangan dan suara gemericiknya saat membasahi gelas, rasa dan pikirkan bagaimana lepasnya kotoran dari gelas kemudian nikmati indahnya gelas yang bersih, rasa dan pikirkan kebahagian disetiap menyelesaikan satu gelas ke gelas lainnya.

 

Melatih kepedulian dapat juga Anda lakukan di tempat kerja sekalipun, pada saat menggunakan komputer, rasa dan pikirkan sentuhan tangan Anda dengan key board, rasa dan pikirkan irama bertambahnya huruf pada layar. Rasa dan pikirkan bagaimana berjalannya bola pada mouse yang Anda gerakan keseluruh arah.

Setiap Anda merencanakan, mengorganisir, mengarahkan dan mengontrol kegiatan lakukan dengan peduh kepedulian. Sadari bahwa setiap detik yang dilalui besar atau kecil kinerjanya, semuanya adalah rangkaian dari suatu prestasi keseluruhan. Rasakan bahwa Anda adalah besi melingkar dari sebuah rantai yang akan menghasilkan nilai. Berikan energi kepedulian pada rantai nilai di samping kiri maupun kanan Anda, layani mereka dengan sebaik mungkin dan buatlah mereka bahagia dan merasa dipedulikan. Ada kalimat yang sangat indah untuk kebaikan kita yaitu “jika kalian ingin di perlakukan adil maka berkumpullah dengan orang-orang yang mengharapkan (peduli) Anda”, sungguh pengalaman yang menyakitkan yang penulis rasakan ketika harus berinteraksi dan berkumpul dengan orang-orang yang pada dasarnya tidak peduli kepada kita walaupun mereka adalah kumpulan orang-orang baik sekalipun. Dan sungguh sangat menyenangkan ketika kita dapat berkumpul dengan orang-orang yang selalu mengharapkan kehadiran kita dan merasa senang pula berada dekat dengan kita.

 

Disela-sela kesibukan kerja dan berkarir sudah menjadi kebutuhan bagi kita untuk mencoba melatih kepedulian diri dengan keluar dari ruang dan waktu yang gersang akan kepedulian beberapa saat, kemudian kembali dengan membawa energi kepedulian yang terpancar dalam wajah, senyum, cinta kasih, ucapan , perilaku penuh kepedulian terhadap diri kita, orang lain, benda hidup dan benda mati sekalipun.

 

Sungguh sangat indah ketika saya selalu rutin melakukan meditasi sosial dengan berkunjung ke rumah orang-orang yang masih alami, orang-orang yang masih penuh rasa terima kasih dan kejujuran ketika memberikan oleh-oleh buat mereka, itulah orang-orang yang masih dipenuhi kepedulian walaupun oleh sesuatu yang sederhana dan kecil. Disitulah saya berinteraksi dan merasakan energi kepedulian yang muncul dari kepolosan, kejujuran, kesederhanaan, senyum, tatapan dan kealamian mereka.

Dengan kegiatan tersebut, wajah yang sebelumnya kusam dan pikiran yang berkecamuk akibat berbagai peristiwa hidup yang gersang dari kepedulian berangsur-angsur menjadi sejuk dan segar ditumbuhi pepohonan dan bunga kepedulian.

 

Kepedulian akan muncul ketika kita berhasil mengecilkan diri kita, melepaskan status-status sosial yang telah lama membebani diri, menganti topeng-topeng kepribadian. Berkumpul dengan orang-orang kecil, berinteraksi dengan orang-orang kaya akan keagungan hati, merasakan keagungan alam, merasakan kesulitan orang lain yang lebih kecil dan tertindas adalah kiat-kiat lainnya. Semua itu akan memberikan energi kepedulian dalam diri Anda, semua itu akan menggerakkan Anda mau memperjuangkan orang-orang yang tertindas, nasib kita, nasib masyarakat kita, nasib perusahaan, nasib bangsa kita, dan nasib kehidupan secara umum.

 

 

Penulis adalah orang yang haus akan kepedulian dan ingin bersahabat dengan orang-orang yang peduli.

  

Be More Than Star, Menjadi Manusia Super Bintang

BE MORE THAN STAR

Menjadi Manusia Super Bintang

Oleh : Asep Chaeruloh  AT.CQA.MM.*

 

Kita tentunya akan selalu ingat akan peribahasa “ gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit”. Sebuah peribahasa yang menyatakan akan sangat berharganya ketinggian bintang dan juga mengambarkan kaitan antara kesuksesan atau tercapainya cita-cita dengan istilah bintang. Berbicara tentang bintang berarti berbicara tentang kelas tertentu dalam derajat kemanusiaan. Biasanya bintang menjadi panutan, sorotan banyak orang, sesuatu yang mengambarkan kehebatan, kualitas, kebesaran manusia.

 

Orang-orang yang terkenal, orang yang cantik dan ganteng, orang yang menjadi teladan selalu  menjadi bintang. Kita mengenal adanya bintang film dalam dunia film, kita mengenal adanya bintang radio dalam dunia radio, kita mengenal adanya bintang lapangan dalam sepakbola, basket dan berbagai olahraga lapanganlainnya, kita mengenal adanya bintang pelajar di sekolah. Sampai-sampai orang-orang yang hebat tadi kalaupun jadi tamu dalam acara diberi gelar sebagai bintang tamu.

Dunia telah mencatat Pele sebagai bintang lapangan sepakbola , Michael Jordan sebagai bintang bola basket serta berbagai nama bintang dalam berbagai bidang lainnya.

 

Pertanyaan yang dulu sering muncul dalam benak saya ketika mengamati bagaimana kehebatan  orang-orang yang menjadi bintang adalah apakah mungkin kita dapat menjadi bintang?.

Bagi orang-orang yang dilahirkan dengan karunia besar dari pemilik kehidupan, dilahirkan dalam keluarga dengan sumber daya yang melimpah, dilahirkan dengan wajah cantik atau ganteng, dilahirkan dengan penuh bakat. Bagi mereka untuk menjadi bintang bukanlah hal yang sulit. Bagi orang-orang yang dilahirkan dengan kemampuan atau sumber daya besar  atau oleh penulis sering disebut sebagai “kapasitas takdir” yang besar, tanpa kerja keras, tanpa pengorbanan, tanpa banting tulang, tanpa kesulitan mereka mempunyai peluang besar untuk dapat menjadi bintang.

 

Lantas bagi kita, bagi orang-orang yang lahir dan hidup dari keluarga dengan sumber daya terbatas dan tidak besar, dapatkah kita menjadi bintang?

 

Selama menjalani kehidupan sebagai “gelandangan intelektual” (orang intelek namun hidup seperti gelandangan) sungguh sangat menyakitkan melihat kondisi masyarakat sekarang, masyarakat yang mayoritas hidup dengan keterbatasan telah menyerah dari sejak awal terhadap keterbatasan tersebut. Diantara mereka banyak yang apatis terhadap kata “bintang”. Mereka yang wajahnya tidak cantik atau ganteng, bagi mereka yang kekurangan harta, tidak bermobil, tidak punya relasi orang hebat dan lain-lain. Mereka merasa bahwa keterbatasan sumber daya atau kapasitas takdir yang rendah telah menutup kemungkinan untuk menjadi “bintang”. Kadang diantara mereka banyak yang menyalahkan keterbatasan tersebut, putus asa dan menganggap keterbatasan dan kapasitas takdir yang rendah tersebut sebagai biang kerok keterpurukan hidupnya. Itulah gambaran orang-orang yang lemah dengan keterbatasan, kebodohan, kemiskinan dan kesulitan. Itulah potret manusia lemah yang sempat saya saksikan dalam kehidupan nyata dilapangan kehidupan yang semakin keras, amburadul dan sewenang-wenang.

 

Dalam banyak kesempatan penulis sering mengingatkan mereka bahwa selayaknya mereka harus bersyukur dengan keterbatasan atau kapasitas takdirnya yang rendah, karena dengan itu mereka mempunyai peluang untuk menjadi “manusia super bintang”, manusia yang lebih hebat, lebih berkualitas dibandingkan dengan para “bintang”.

Orang-orang yang mempunyai kapasitas takdir yang besar, bagi mereka kecil sekali peluang untuk menjadi manusia super bintang, apalagi kalau dalam bidang dan kekuatannya, paling hebat bagi mereka adalah menjadi  manusia bintang.

 

Kesedihan saya semakin menyesakkan dada, karena sungguh sangat disayangkan orang-orang yang mempunyai kapasitas takdir yang besar, mereka tidak mau meningkatkan “kapasitas pilihannya”, mereka tidak mau berusaha keras untuk menjadi bintang padahal mereka sudah tidak mempunyai peluang untuk menjadi manusia super bintang dalam bidang dan kekuatannya. Harusnya dengan keadaannya tersebut mereka bersedih dan melakukan perubahan diri serta lebih semangat dan serius untuk meraih sukses, karena sehebat-hebatnya dirinya paling hanya akan menjadi bintang. Harusnya mereka malu kalau tidak berhasil menjadi bintang karena sudah diberi modal atau kapasitas lebih dibandingkan dengan orang lain. Itulah potret manusia lainnya yang penulis temukan dan katagorikan sebagai manusia malas, potret manusia yang penulis temukan ketika berinteraksi dan berkumpul dengan orang yang dilahirkan bersama kapasitas takdir yang besar.

 

Untuk itu berbahagialah, bersyukurlah, bersemangatlah wahai orang-orang biasa, orang-orang kecil, orang-orang bodoh, orang-orang miskin, orang-orang yang tidak ganteng, orang-orang yang tidak cantik dan orang-orang yang tidak berbakat.

Ketahuilah  bahwa kapasitas takdir yang rendah itu adalah anugerah dan kasih sayang Pemilik Kehidupan. Bodoh, kecil, buruk, terbatas, miskin itu adalah indah.

 

Gede Prama yang sering disebut sebagai Steven Coveynya Indonesia pernah menulis tentang “Kalah Itu Indah” dan “Bodoh Itu Indah”. Dalam tulisan bodoh itu indah Gede Prama bercerita tentang pameran teknologi mobil di Jerman antara orang Jerman, orang Jepang dan orang Indonesia.

Orang Jepang dengan bangganya bercerita bahwa bereka telah berhasil menciptakan remote-control mobil yang kalau di tekan tidak hanya membuka kunci namun sekaligus  mesinnya hidup. Orang Jerman tidak mau kalah, dengan lebih bangga mereka berkata bahwa teknologi remote-control  mereka dapat membuka pintu secara otomatis. Kemudian giliran orang Indonesia dengan keterbatasan teknologinya tampil percaya diri dan merasa lebih unggul karena orang Indonesia tanpa remote-control dapat secara otomatis menyalakan dan membuka pintu mobil, cukup hanya dengan melambaikan tangan mobil datang sendiri mendekat, pintu terbuka sendiri dan mobil jalan sendiri tanpa ia setir. Lebih hebat kan?, tentunya anda dapat menjawab sendiri kenapa?.

 

Walaupun itu hanya sebuah humor tapi dapat menjadi gambaran bahwa dengan kapasitas takdir yang rendah kita akan lebih mudah bersyukur dan merasakan nikmatnya hidup dengan berbagai keadaan.

 

Banyak orang kaya merasa enak dan nikmat makan setelah keluar uang ratusan ribu rupiah bahkan ada yang jutaan ribu rupiah. Dilain pihak saya saksikan sendiri dan merasakan sendiri bagaimana lahap dan cerianya wajah para pekerja di rumah saya saat makan walaupun hanya dengan ikan peda sekalipun. Dan ketika saya diberi kelebihan rezeki oleh Sang Pemilik Kehidupan saya bagikan kepada mereka makanan yang relatif lebih bagus namun jauh lebih murah dari yang biasa di makan oleh orang-orang kaya. Memancar dari wajah mereka ucapan terima kasih yang begitu tulus dan penuh kesyukuran  atas nikmat yang diperolehnya. Dengan demikian justeru dengan kebodohan, dengan keterbatasan, dengan kemiskinan saat dilahirkan akan membuat luas ladang kenikmatan yang kita miliki. Tapi untuk selanjutnya tidaklah cukup sampai disitu, mereka harus juga melakukan perubahan dan memanfaatkan luasnya ladang kenikmatan sebagai dampak luasnya pilihan kehidupan bagi mereka.

 

Anda, yang tidak cantik jangan merasa bersedih, seharusnya Anda kasihan pada Tamara Blezensky, Maudy, Inneke dan bintang film lainnya, karena mereka tidak mungkin menjadi super bintang dalam hal kecantikan.

Anda yang miskin jangan merasa tersiksa, seharusnya Anda kasihan pada orang-orang yang dilahirkan dari keluarga kaya. Kasihan pada Tommy, Mbak Tutut dan anak-anak para pejabat dan pengusaha lainnya, karena mereka tidak dapat menjadi super bintang dalam hal kekayaan.

 

Bagi mereka yang dikarunia kapasitas takdir yang besar jangan pula bersedih bahwa Anda sama sekali tidak dapat menjadi manusia super bintang. Anda bisa melihat perjalanan hidup Inneke Koesherawati, walaupun memang Ia tidak dapat menjadi super bintang dalam hal kecantikan karena sudah dilahirkan sebagai wanita cantik, namun Inneke dapat menjadi super bintang untuk bidang kehidupan lainnya diantaranya dalam hal ibadah dan nilai ketaqwaan yang sedang ia perjuangkan dan terapkan lewat perubahan diri dan penampilannya. Ketaqwaan yang kalau berhasil Inneke raih tentunya akan lebih berharga dari ketaqwaan yang memang diperoleh orang-orang yang hidup dalam lingkungan yang taqwa, berdasarkan potret manusia yang penulis dapatkan. Karena kita tahu bagaimana sepak terjang dan perilaku Inneke sebelum berjilbab. 

 

Ingatlah bahwa Sang Pemilik Kehidupan lebih menghargai proses dibandingkan hasilnya, walaupun hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk kita tidak mempunyai hasil yang baik. Sang Pemilik kehidupan lebih menyukai pengorbanan, kerja keras, kejujuran dan sebagainya. Sang pemilik kehidupan lebih menghargai “kapasitas pilihan” dibandingkan dengan “kapasitas takdir”. Kita perlu hati-hati akan kapasitas takdir yang kita miliki karena bisa jadi itu akan menjadi sarana yang menjerumuskan kita pada akhir yang mengenaskan dan abadi.

 

Wahai orang yang dengan kapasitas takdir rendah, Anda seharusnya bangga dilahirkan menjadi orang kecil, orang miskin, orang jelek, Karena dengan demikian Anda mempunyai peluang besar untuk menjadi manusia super bintang.

Sadarilah  bahwa hidup ini adalah petualangan dan proses pemilihan, begitu luas dan lapang pilihan bagi orang-orang yang kapasitas takdir rendah. Orang-orang yang merasa dilahirkan sebagai orang kecil akan mengalami luas dan lapangnya pilihan hidup. Orang kecil secara psikologis mempunyai peluang besar untuk meraih kapasitas pilihan yang besar. Sukses yang diraih berdasarkan kapasitas pilihan merupakan sukses Manusia Super Bintang.

 

Sayang masyarakat kita banyak yang tertipu oleh arus budaya materialistis yang muncul, termasuk didalamnya orang-orang kecil sekalipun. Mereka lebih bangga menjadi bintang dari pada menjadi manusia super bintang. Kebanyakan dari mereka lebih mengandalkan kapasitas takdir untuk meraih kesuksesan, padahal kapasitas takdir sudah tidak dapat dirubah. Jarang sekali yang mau mengandalkan pada kapasitas pilihan, karena memang jika mengandalkan hal demikian kurang mendapat penghargaan di arus budaya materialistis dan serba artifisial ini. Sehingga banyak diantara mereka yang tidak mau mengandalkan pada kapasitas pilihan dalam meraih sukses. Kerja keras, pengorbanan, tanggung jawab, jujur, gigih, dan berbagai karakter positip lainnya akhirnya menjadi barang langka. Di sisi lain, santai, mau hidup tinggal enaknya saja, egois, hura-hura menjadi gaya hidup sehari-hari.

 

Suatu hal yang penting untuk mempunyai pengetahuan, kesadaran dan kemampuan melaksanakan upaya mempunyai kapasitas pilihan yang besar, sebagai suatu langkah awal dalam menjadi pribadi yang barakah. Pengetahuan, kesadaran dan kemampuan tersebut merupakan Self-Starter yang akan memulai dan menghidupkan potensi diri Anda untuk siap bergerak meraih barakah hidup dalam kondisi apapun.

Super Bintang

 

Bintang

Lemah

Malas

          Kecil                     Besar

 

 

Besar

 

 

 

 

Kecil

Kapasitas Takdir

Kapasitas Pilihan

* Penulis adalah orang kecil yang ingin menjadi manusia super bintang.

  

Rentang Kehidupan Sejati

Rentang Kehidupan  Sejati

Asep Explosive Trainer Chaeruloh MM

Setiap orang dalam menjalani kehidupannya mempunyai sumber daya waktu, namun jika berbicara tentang rentang waktu kehidupan setiap orang memiliki perbedaan tentang ruang lingkupnya, berbicara tentang rentang kehidupan adalah berbicara tentang waktu dari sejak kapan kehidupan dimulai dan kapan kehidupan akan berakhir.

Ada yang memahami rentang waktu kehidupan hanya sebatas didunia saja sejak ia lahir sampai meninggal, yang membaginya menjadi tiga bagian penting rentang kehidupan, yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa lalu berbicara tentang rentang kehidupan yang telah dijalani, masa kini berbicara tentang rentang kehidupan yang sedang dijalani dan masa depan berbicara tentang kehidupan yang akan dijalani.

 

----------------------------------------------------------------------

Masa lalu                    Masa kini                         Masa depan

 

Ada juga sebagian orang yang memandang rentang kehidupannya sampai kehidupan multi dimensional, dimana rentang kehidupan seseorang tidak hanya sekedar kehidupan didunia saja, namun memasukkan kehidupan akhirat sebagai bagian dari rentang kehidupan. Berbicara tentang kehidupan akhirat berarti terkait erat dengan kehidupan setelah kehidupan dunia, sebuah kehidupan yang abadi.

 

------------------------------------------------------------------------------------------

Masa Lalu                       Masa Kini                     Masa Depan               Masa Abadi

 

Perbedaan bagaimana seseorang terkait dengan rentang waktu kehidupannya akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana ia menjalani waktu-waktu hidupnya, bagaimana ia berperilaku dalam mengisi waktu hidupnya, dan bagaimana mempertanggungjawabkan waktu hidupnya.

Orang yang hanya memandang sampai masa depan adalah orang-orang yang tidak percaya pada adanya kehidupan setelah kematian, kehidupan abadi yang telah dibedakan untuk selamanya mana manusia yang layak hidup disurga dan mana yang layak hidup dineraka. Mereka tidak merasa khawatir dalam menjalani aktivitas kehidupannya, apakah sesuatu itu benar atau salah, kalaupun memperhatikan hal tersebut yaitu benar dan salah, namun hanya sebatas untuk kebaikan kehidupan dunia ini.

Kita memang dibebaskan untuk memilih apakah termasuk orang-orang yang memandang kehidupan ini sampai masa abadi atau cukup sampai masa depan saja. Namun yang pasti setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas kehidupan didunia yang dijalaninya.

Berbeda sekali dengan orang-orang yang memandang kehidupan sampai masa abadi, mereka akan melakukan aktivitas atau perilaku yang tidak bertentangan dengan hal-hal yang dipersyaratkan untuk dapat bahagia di kehidupan setelah kematian.

Waktu-waktu mereka dengan berbagai ektivitasnya semuanya dalam rangka mengumpulkan bahan-bahan bangunan untuk dapat membangun rumah kebahagiaan sejati di kapling perumahan surgawi. Perumahan yang keindahannya tidak pernah terbayangkan dan terbersit oleh yang namanya manusia.

Mereka tidak akan dengan mudahnya menukarkan kabar gembira keindahan yang tak terbayangkan tersebut dengan keindahan dunia yang sesaat saja, yang isinya adalah episode sandiwara kehidupan. Kesuksesan dan kebahagian bagi mereka adalah bukan berapa banyak kekayaaan dan materi yang sudah dimiliki, kesuksesan dan kebahagiaan  mereka adalah berapa banyak harta dan kekayaannya yang telah di habiskan di jalan kebaikan.

Namun rentang kehidupan orang-orang yang memandang sampai masa abadi, jalannya dipenuhi oleh liku-liku cobaan dan godaan. Semoga Tuhan membimbing dan menjauhkan kita dari godaan setan yang selalu menghalangi dan membelokkan pandangan kita dari masa abadi ke masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Amin.

  

Belajar Dari Arang & Berlian

Belajar Dari Arang & Berlian

Asep ” The Explosive Trainer” Chaeruloh MM.

 

Membandingkan arang dan berlian adalah salah satu analogi yang tepat untuk membedakan pemimpin yang berkualitas dan yang tidak berkualitas. Salah satu aspek yang dapat digunakan untuk menguji kualitas kepemimpinan seseorang adalah dimensi nilai pribadi, dimensi yang menggambarkan tentang kualitas pemimpin dari hasil proses menjalani menjalani kehidupan.

Dimensi nilai pribadi secara ekstrim dapat kita bagi menjadi 2 yaitu nilai pribadi yang rendah (bagai arang) dan nilai pribadi yang tinggi (bagai berlian). Keduanya sama-sama dibangun dengan unsur yang sama yaitu karbon, namun bagaimana sistematika kandungan karbon serta perlakuan yang didapat oleh arang dan berlian, itulah yang menyebabkan kualitas keduanya menjadi berbeda nilai.

Dalam sebuah sesi pelatihan manajemen kesibukan, sebelum para peserta masuk ruangan pelatihan, kami minta mereka menuliskan kata-kata mutiara  yang dapat memotivasi di atas kanvas dengan menggunakan arang. Roman muka peserta  hampir semuanya sempat ragu untuk mengambil arang, mereka gunakan ujung ibu jari dan telunjuk untuk mengambilnya,  ketika menulispun dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Mereka seakan ingin cepat segera selesai menulis dan membuang sisa arang yang digunakan, hampir semuanya tangan mereka menjadi kotor dan harus mencuci tangan. Arang yang digunakan hampir semuanya berkurang ukurannya dan ada yang habis tak bersisa.

Di dalam kelas kami meminta peserta yang membawa berlian untuk maju kedepan dan meminta peserta lainnya untuk memperhatikan bagaimana perlakuan orang terhadap berlian. Ketika di tanyakan siapa yang ingin berlian hampir semuanya ingin memiliki, ketika berlian disimpan di dalam tempat sampah dan ditanyakan kepada peserta apakah mereka masih ingin memilikinya, semua peserta menjawab masih ingin memilikinya.

Bagaimana berlian ditempatkan orang, apakah ditempat sembarangan atau di tempat khusus?. Berapakah harga berlian?, bandingkan dengan perlakukan orang pada arang?. Berapa harga arang?, tentunya hampir semua jawaban mengisyaratkan bagaikan bumi dan langit.

            Arang berwarna hitam kelam, di beri sinar atau cahaya, arang tetap gelap dan tidak mampu menyinarkan kembali cahaya untuk sekitarnya. Berbeda dengan berlian saat diberi cahaya, ia menjadi lebih terang dan mampu menyinari lingkungan sekitarnya.

            Unsur dasar arang adalah karbon, namun struktur molekulnya tidak padat dan ikatannya lemah. Berlian mempunyai unsur dasar yang sama dengan arang yaitu karbon, namun struktur molekulnya padat dan ikatannya kuat, sehingga kekuatannyapun berbeda, arang mudah dihancurkan, sedangkan berlian relatif sulit dihancurkan, karena memiliki keunggulan dan soliditas yang tinggi.

 

***

            Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu, kemampuan memimpin tergantung dari seberapa besar sumber pengaruh yang dimilikinya, sumber pengaruh tersebut bagaikan energi seseorang untuk mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

            Einsteins menyatakan bahwa E = MC2 , Energi menurut Einstein adalah Masa yang digerakkan dengan percepatan tertentu, semakin besar masa (M) dan semakin besar percepatan (C2) maka akan menjamin semakin besarnya energi.

Masa dapat diidentikan dengan nilai pribadi (personal value) yang apabila diberi kesempatan untuk melakukan akselerasi maka akan dihasilkan energi yang lebih besar.

Kitapun mengetahui bahwa Masa (M) adalah Volume dikali Berat Jenis (Bj), untuk menghasilkan Masa yang besar maka diperlukan Volume dan Berat Jenis yang besar pula: M = V x Bj.

Volume dapat diidentikkan dengan superioritas pribadi atau kehebatan seseorang, sedangkan Berat Jenis dapat diidentikkan dengan bobot atau soliditas pribadi, sehingga untuk menghasilkan Masa atau Nilai Pribadi yang besar dapat dilakukan dengan cara memaksimalkan Volume (memperbesar kehebatan pribadi) dan Berat Jenis (memperbesar soliditas pribadi).

Kalau kita turunkan kembali rumus tentang Volume, maka Volume itu adalah Luas di kali Tinggi, untuk mendapatkan Volume yang besar maka diperlukan Luas dan Tinggi yang besar pula : V = L x T.

Luas dapat diidentikkan dengan ruang lingkup peran dalam menjalankan aktivitas kehidupan, sedangkan Tinggi diidentikan dengan Kompetensi atau Keahlian yang dimiliki seseorang, dengan demikian untuk dapat menghasilkan kehebatan pribadi atau superioritas dapat dilakukan dengan cara memperbesar luas atau Ruang Lingkup Peran dan memperbesar Kompetensi. 

Semakin besar harapan yaitu kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya terjadi, maka akan dibutuhkan energi yang semakin besar pula, dan kalau kita saksikan bagaimana kondisi kesenjangan yang terjadi di Indonesia, kita saksikan begitu besarnya kesenjangan tersebut dan berarti juga menunjukkan akan kebutuhan energi yang besar pula.

Dengan demikian untuk dapat mengeluarkan Indonesia dari keterpurukan, membebaskan Indonesia dari budaya korupsi  menciptakan kejayaan bangsa, dibutuhkan para pemimpin yang mempunyai Energi yang besar, dan itu ada di pemimpin bagaikan berlian.

 

 

 

  

Youth IndoLead Program 2020

YOUTH-INDOLEAD PROGRAM

Asep "The Explosive Trainer" Chaeruloh Baelawy

 

Youth-Indolead Program adalah program yang ditujukan bagi pemuda Indonesia sebagai calon pemimpin masa depan. Program ini dibuat sebagai kontribusi proactive dari orang-orang yang sadar atas keprihatinan terhadap peranan pemuda Indonesia dalam memimpin Indonesia.

 

Reformasi yang dimulai sejak runtuhnya orde baru tahun 1998 yang katanya disponsori oleh gerakan mahasiswa, yang pada dasarnya mereka itu adalah pemuda.Reformasi tersebut telah gagal untuk membawa angin perubahan kepemimpinan, hampir delapan tahun sudah berlalu harapan perubahan itu tidak terealisasi, karena setelah reformasi yang memimpin Indonesia kembali adalah muka-muka lama.

 

Momentum reformasi tidak dapat dimanfaatkan untuk angin perubahan kepemimpinan, khususnya kepemimpinan pemuda yang menjadi pelopor runtuhnya orde baru, pasti ada penyebabnya, bisa jadi dari faktor internal ataupun eksternal pemudanya.

 

Hasil diskusi terbatas yang dihadiri oleh praktisi dan aktivis yang prihatin atas fenomena masih kuatnya hegemoni pemain lama dalam kepemimpinan bangsa, disimpulkan ada 3 penyebab utama baik eksternal maupun internal, yang menjadi jawabab atas pertanyaan "Mengapa Pemuda Indonesia Belum Memimpin?", yaitu sebagai berikut :

1. Generasi tua tidak memberikan kesempatan memimpin (lack   of  opportunity),

2. Pemuda tidak membangun kesempatan memimpin (lack of strategy & scenario),

3. Kemampuan pemuda untuk memimpin masih jauh dari harapan (lack of competency). 

 

Diperlukan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui ketiga aspek tersebut secara akurat termasuk juga kejelasan bobot dari setiap faktor. Terlepas dari kondisi tersebut dapat diambil benang merah solusi yang dapat mengatasi ketiga permasalahan yang muncul, yaitu akselerasi kepemimpinan pemuda, dimana salah satu programnya adalah pelatihan kepemimpinan.

 

Pengalaman membuktikan bahwa salah satu jalan perubahan adalah pelatihan, jalan yang dapat memberikan kesadaran pada generasi tua untuk mempersiapkan penggantinya (great opportunity), jalan yang dapat memberikan kemampuan strategi dan skenario kepada para pemuda untuk menciptakan kesempatan (great scenario), jalan yang dapat mengisi kesenjangan kemampuan pemuda untuk memimpin bangsa (great competency).

 

Keprihatinan dan kepedulian untuk meluncurkan program akselerasi kepemimpinan pemuda semakin dirasakan dengan membaca perkembangan kehidupan sebagai berikut:

1. Perubahan dan zaman yang serba cepat

Tuntutan kesuksesan dan daya saing berkelanjutan yang muncul saat ini adalah terkait kecepatan (Quick Response), karena perubahan lingkungan dan berbagai anasir lainnya, salah satunya adalah teknologi  berubah dan bergerak dengan cepat (faster), produk terbaru dan berbagai hasil penelitian lahir dan diimplementasikan dengan cepat pada era sekarang ini, khususnya produk hasil  penelitian yang memungkinkan manusia semakin cepat untuk mengerjakan aktivitasnya.

 

2. Beban Masa Lalu Bagi Pemimpin Tua

Pada saat perubahan tidak berjalan dengan cepat maka belajar dari pengalaman adalah guru yang terbaik, namun saat masa depan sulit diprediksikan dan kehidupan berjalan dengan cepat maka belajar dari pengalaman bisa jadi penghambat untuk dapat bergerak dengan cepat, pada kondisi demikian kita perlu apa yang disebut dengan learning from the future atau belajar dari masa depan.

 

Pengalaman bisa jadi beban bagi pemimpin tua untuk memasuki zona baru, terobosan baru dan berbagai hal lainnya yang baru, untuk dapat membawa Indonesia keluar dari lingkaran syetan keterpurukan. Apalagi kalau ternyata pengalaman-pengalaman yang dimiliki adalah pengalaman yang hasilnya belum mampu membawa Indonesia keluar dari krisis, karena selama ini pengalaman yang muncul dari kepemimpinan adalah lebih dominan pengalaman melakukan KKN, pengrusakan lingkungan dan berbagai program lainnya yang membawa pada kondisi krisis multidimensi.

 

Pengalaman pemimpin tua akan tetap menjadi positif ketika ia mampu menempatkan diri dengan tepat, yaitu menjadi penasehat bukan lagi sebagai pelaku aktif kepemimpinan. Ia dapat menjadi mitra dan tempat bercermin bagi pemimpin.

 

3. Sejarah & Karakteristik Pemuda

Sejarah kehidupan telah mencatat bahwa gerbong perubahan itu muncul dari kesadaran para pemuda untuk melakukan hal yang berbeda dan lebih baik, mereka mampu bergerak tanpa beban pengalaman, mereka akan lebih mudah untuk diajak dan melakukan "belajar dari masa depan", sebagai sebuah pemenuhan tuntutan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.

 

Fisik, semangat dan daya ingatnya yang masih segar merupakan sumber daya yang merupakan energi yang dapat digunakan untuk bergerak menghasilkan energi yang lebih besar lagi, sebuah gelombang energi yang dapat mempengaruhi kehidupan, meluluhlantakkan tabir masa depan menuju kejelasan visi dan fokus dalam beraktivitas.

 

Program akselerasi kepemimpinan pemuda ini diharapkan akan mampu menghasilkan energi yang luar biasa besar bagi perubahan bangsa. Sebagaimana kita ketahui bahwa Energi menurut Einstein adalah Masa yang digerakkan dengan percepatan tertentu, semakin besar masa (M) dan semakin besar percepatan (C2) maka akan menjamin semakin besarnya energi:

 

  • E = M x C 2 

 

Masa dapat diidentikan dengan nilai pribadi (personal value) yang apabila dapat atau diberi kesempatan untuk melakukan akselerasi maka akan dihasilkan kesuksesan (energi) sebagai sumber daya kesuksesan lainnya yang lebih besar.

 

Kitapun mengetahui bahwa Masa (M) adalah Volume dikali Berat Jenis (Bj), untuk menghasilkan Masa yang besar maka diperlukan Volume dan Berat Jenis yang besar pula:

 

  • M = V x Bj

 

Volume dapat diidentikkan dengan superioritas pribadi atau kehebatan seseorang, sedangkan Berat Jenis dapat diidentikkan dengan bobot atau soliditas pribadi, sehingga untuk menghasilkan Masa atau Nilai Pribadi yang besar dapat dilakukan dengan cara memaksimalkan Volume (memperbesar kehebatan pribadi) dan Berat Jenis (memperbesar soliditas pribadi).

 

Kalau kita turunkan kembali rumus tentang Volume,maka semua sudah mengenal bahwa Volume itu adalah Luas di kali Tinggi, untuk mendapatkan Volume yang besar maka diperlukan Luas dan Tinggi yang besar pula

 

  • V = L x T

 

Luas dapat diidentikkan dengan ruang lingkup peran dalam menjalankan aktivitas kehidupan (tingkat kesibukan), sedangkan Tinggi diidentikan dengan Kompetensi atau keahlian yang dimiliki seseorang, dengan demikian untuk dapat menghasilkan kehebatan pribadi atau superioritas dapat dilakukan dengan cara memperbesar luas atau Ruang Lingkup Peran dan memperbesar Kompetensi. 

 

Terkait dengan percepatan sebagai kuadrat dari kecepatan (C), Merupakan Jarak (S) di bagi Waktu (T). Untuk menghasilkan kecepatan yang maksimal maka perlu jarak yang besar dan waktu yang kecil, perbedaan atau delta antara jarak dan waktu yang semakin besar akan memberikan kecepatan yang tinggi.

 

              S

  • C = -------

              T

 

Kalau jarak (S) diibaratkan sebagai besar atau kecilnya cita-cita, visi, misi, harapan, target, tujuan dan lainnya sebagai suatu ukuran kesuksesan yang diraih, dan Waktu (T) adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan.  Kalau terjadi Percepatan (a)artinya terjadi semakin sangat kecilnya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan tertentu.

                    ____

  • a = C2 = (S/T)2

 

Kalau kita gabungkan semua penjabaran akan memberikan gambaran korelasi antar setiap unsur yang dapat membuat energi menjadi besar :

                                

E = ((L x T) x Bj) x (S/T)2

 

Energi berbanding lurus dengan Ruang Lingkup Peran (L), Kompetensi (T), Superiorias (V = L x T), Soliditas (Bj), Masa (M = V x Bj), Tingkat Kesuksesan (S), dan Percepatan (a = S/T2). Dan energi berbanding terbalik dengan Waktu (T).

 

Energi yang besar akan diperoleh apabila waktu yang dibutuhkan semakin kecil, percepatan terjadi apabila terjadi perubahan yang semakin cepat dari kecepatan yang biasa, atau sebaliknya semakin cepat kita menyelesaikan suatu kesuksesan maka akan memberikan percepatan atau akselerasi, semakin besar akselerasi maka akan semakin besar energi.

 

Penerapan dari konsep rumusan energi diatas tidak hanya dapat dilakukan untuk ruang lingkup pribadi saja, namun dapat diterapkan juga untuk ruang lingkup kelompok dan juga organisasi, bahkan negara dan juga kehidupan ini.

 

Semakin besar harapan yaitu kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya terjadi maka akan dibutuhkan energi yang semakin besar pula, dan kalau kita saksikan bagaimana kondisi kesenjangan yang terjadi di Indonesia, kita saksikan begitu besarnya kesenjangan tersebut dan berarti juga menunjukkan akan kebutuhan energi yang besar pula.

 

Dengan demikian untuk dapat mengeluarkan Indonesia dari keterpurukan dan menciptakan kejayaan maka diperlukan para pemimpin yang mempunyai Energi yang besar, dan itu ada di para PEMUDA!

 

Begitu pentingnya energi yang dimiliki pemuda dan akselerasi yang harus diciptakan maka program Youth-Indo Lead Program ini diarahkan untuk menciptakan "Akselerasi Kepemimpinan Pemuda di Indonesia", dengan mengacu pada 10 Prinsip atau Karakteristik yang terdiri dari :

 

1. Energi Keyakinan atau Prinsip

2. Energi Pengabdian Sejati

3. Energi Pelayanan

4. Energi Alam Super Sadar

5. Energi Pengaruh Jangka Panjang

6. Ketepatan Dengan Perkembangan Zaman

7. Kecepatan meraih sukses

8. Kesibukan yang luar biasa

9. Kesederhanaan

10. Bebas KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme)

 

Akselerasi Kepemimpinan Pemuda akan sulit terjadi jika sistem manajemen SDM disetiap organisasi baik pemerintahan, lembaga negara, swasta, ormas maupun organisasi sosial dan politik belum mengadopsi konsep akselerasi dalam pengembangan karir pegawai atau anggotanya, atau sering kami sebut sebagai Sistem Manajemen Akselerasi Kepemimpinan (SIMAK). 

 

SIMAK menyebabkan pengembangan karir bukan sekedar berlandaskan pada kompetensi dan kinerja saja (konsep pengembangan SDM yang lagi populer) yang dalam kamus kami hampir identik dengan Ruang Lingkup Peran dan Kompetensi yang digabungkan menjadi Keunggulan. Namun konsep ini tidak hanya mengukur tingginya kinerja tapi mengadopsi juga seberapa luas kinerja (banyaknya peran).

 

Konsep SIMAK sudah berbasiskan pada value atau nilai pribadi yang merupakan gabungan antara superioritas (keunggulan) dan soliditas, sehingga konsep ini selain mengadopsi banyaknya peran, juga memperhatikan aspek soliditas peran yang ditunjukkan dengan skala komplementari, konektivitas. koalisi dan integrasi.

 

Tentang bagaimana mengelola supaya mampu meraih personal value yang tinggi, dapat dipelajari pada konsep yang kami sebut sebagai Manajemen Waktu Generasi V, dimana didalamnya secara teknis menerapkan format Asep House of Energy (AHoE).

 

Konsep-konsep diatas akan semakin memberikan hasil yang luar biasa jika lebih jauh lagi dikaitkan dengan konsep Celestial Management yang mengakui adanya energi luar biasa dalam kehidupan,sumber dari segala sumber energi yaitu Tuhan yang selalu memberikan rahmat dan berkahnya melalui malaikat pada manusia. Konsep yang akan membuat manusia keluar dari derajat kemanusiaan dan mencapai derajat makhluk paling mulia, dengan hidupnya kalbu. 

 

Terdorong oleh energi yang muncul dari berbagai konsep diatas dan perlunya implementasi secara nyata dari konsep-konsep di atas menyebabkan keinginan untuk membagikan konsep dan mengajak pihak-pihak yang peduli pada kemajuan Indonesia, khususnya pada kepemimpinan di Indonesia dan lebih super khusus yaitu akselerasi kepemimpinan pemuda di Indonesia, maka di gulirkan YOUTH-INDOLEAD PROGRAM (YIP).

 

YIP ini mempunyai harapan yang ingin dicapai, yaitu :

 

Pada tahun 2020, rata-rata Pemimpin INDONESIA berusaha dibawah 40 tahun.

 

Untuk mewujudkan di susun 5 core proses yang terdiri dari :

 

1. Proses Monitoring & Litbang

2. Proses Jaringan Kerja & Penyadaran Masyarakat

3. Proses Diklat Akselerasi Kepemimpinan

4. Proses Penggalangan Donasi dan Hibah 

Akselerasi Kepemimpinan Pemuda

YOUTH-INDOLEAD PROGRAM

PERANAN ORANG TUA DALAM AKSELERASI KEPEMIMPINAN PEMUDA

Asep "The Explosive Trainer" Chaeruloh Baelawy

Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin. Mereka menerima kecukupan dari orang lain. Mungkin orang lain memberinya atau mungkin menolaknya. Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah dengan ikhlas karena Allah kecuali engkau akan mendapat pahala karenanya.” (Muttafaq’Alaih)

 

Youth-Indolead Program adalah program yang ditujukan bagi pemuda Indonesia sebagai calon pemimpin masa depan. Program ini dibuat sebagai kontribusi secara proactive dari orang-orang yang sadar atas keprihatinan terhadap peranan pemuda Indonesia dalam memimpin Indonesia.

 

Reformasi yang dimulai sejak runtuhnya orde baru tahun 1998, yang katanya disponsori oleh gerakan mahasiswa, yang pada dasarnya mereka itu adalah pemuda. Reformasi tersebut telah gagal untuk membawa angin perubahan kepemimpinan yang diharapkan, hampir delapan tahun sudah berlalu harapan (Hope) perubahan itu tidak terealisasi, karena setelah reformasi yang memimpin Indonesia kembali adalah muka-muka lama.

 

Momentum reformasi tidak dapat dimanfaatkan untuk angin perubahan kepemimpinan, khususnya kepemimpinan pemuda yang menjadi pelopor runtuhnya orde baru, pasti ada penyebabnya, bisa jadi dari faktor internal ataupun eksternal pemudanya.

 

Hasil diskusi terbatas yang dihadiri oleh praktisi dan aktivis yang prihatin atas fenomena masih kuatnya hegemoni pemain lama dalam kepemimpinan bangsa, disimpulkan ada 3 penyebab utama baik eksternal maupun internal, yang menjadi jawaban atas pertanyaan "Mengapa pemuda Indonesia belum memimpin?", yaitu sebagai berikut :

1. Generasi tua tidak memberikan kesempatan memimpin (lack   of  opportunity),

2. Pemuda tidak membangun kesempatan memimpin (lack of strategy & scenario),

3. Kemampuan pemuda untuk memimpin masih jauh dari harapan (lack of competency). 

 

Diperlukan penelitian lebih mendalam untuk mengetahui ketiga aspek tersebut secara akurat termasuk juga kejelasan bobot dari setiap faktor. Terlepas dari kondisi tersebut dapat diambil benang merah solusi yang dapat mengatasi ketiga permasalahan yang muncul, yaitu akselerasi kepemimpinan pemuda.

 

Seseorang untuk dapat memimpin memerlukan kekuatan atau power yang dapat digunakan untuk melakukan esensi kepemimpinan, yaitu mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Kekuatan atau sumber pengaruh tersebut dapat bersifat jangka pendek seperti uang dan jabatan, maupun bersifat jangka panjang seperti keteladanan, keilmuan, keahlian dan pengalaman. Sejarah telah mencatat bahwa kehidupan akan lebih baik jika para pemimpinnya mengandalkan pada sumber pengaruh jangka panjang.

 

Kita saksikan sekarang bagaimana proses pemilihan pimpinan, baik nasional maupun lokal masih begitu kental mengandalkan pada sumber pengaruh jangka pendek, khususnya uang dan jabatan. Kondisi ini menyebabkan kepemimpinan didominasi oleh para pemilik uang, biasanya pengusaha dan orang kaya (harta). Dampak lebih jauh adalah semakin sedikitnya peluang pemuda untuk dapat berkontribusi sebagai pemimpin dan terhambatnya regenerasi kepemimpinan.  

 

“Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin…”

 

Kami berhadap penggalan hadits pada awal artikel ini dapat memotivasi kita semua, khususnya orang tua untuk mempersiapkan generasi berikutnya agar dapat hidup lebih baik lagi. Kekayaan dan kemiskinan yang dimaksud dari hadits diatas tentu bukan sekedar kekayaan dan kemiskian harta saja, namun kekayaan dan kemiskinan secara lebih universal  melingkupi kekayaan dan kemiskinan hati, akal dan fisik.

 

Motivasi tersebut mudah-mudahan dapat mendorong orang tua untuk memiliki keprihatinan dan kepedulian dalam akselerasi kepemimpinan pemuda, khususnya mempersiapkan anak-anak mereka untuk memiliki sumber pengaruh jangka panjang yiatu kekayaan hati, akal dan fisik, agar mereka siap untuk memimpin bangsa ini. Kepedulian ini harus dibangun karena perkembangan kehidupan sebagai berikut:

 

1.      Perubahan dan zaman yang serba cepat

Tuntutan kesuksesan dan daya saing berkelanjutan yang muncul saat ini adalah terkait kecepatan (Quick Response), karena perubahan lingkungan dan berbagai anasir lainnya berubah dengan cepat, salah satunya adalah teknologi yang  berubah dan bergerak dengan cepat (Faster), produk terbaru dan berbagai hasil penelitian lahir dan diimplementasikan dengan cepat pada era sekarang ini, khususnya produk hasil  penelitian yang memungkinkan manusia semakin cepat untuk mengerjakan aktivitasnya.

 

2. Beban Masa Lalu Bagi Pemimpin Tua

Pada saat perubahan tidak berjalan dengan cepat dan masa depan dapat diprediksikan dengan mudah maka belajar dari pengalaman adalah guru yang terbaik, namun saat masa depan sulit diprediksikan dan kehidupan berjalan dengan cepat maka belajar dari pengalaman bisa jadi penghambat untuk dapat bergerak dengan cepat, pada kondisi demikian kita perlu apa yang disebut dengan learning from the future atau belajar dari masa depan.

 

Pengalaman bisa jadi beban bagi pemimpin tua untuk memasuki zona baru, terobosan baru dan berbagai hal lainnya yang baru, untuk dapat membawa Indonesia keluar dari lingkaran syetan keterpurukan. Apalagi kalau ternyata pengalaman-pengalaman yang dimiliki adalah pengalaman yang hasilnya belum mampu membawa Indonesia keluar dari krisis, karena selama ini pengalaman yang muncul dari kepemimpinan di Indonesia adalah lebih dominan pengalaman melakukan KKN, pengrusakan lingkungan dan berbagai program lainnya yang membawa pada kondisi krisis multidimensi.

 

3. Sejarah & Karakteristik Pemuda

Sejarah kehidupan telah mencatat bahwa gerbong perubahan itu muncul dari kesadaran para pemuda untuk melakukan hal yang berbeda dan lebih baik, mereka mampu bergerak tanpa beban pengalaman, mereka akan lebih mudah untuk diajak dan melakukan "belajar dari masa depan", sebagai sebuah pemenuhan tuntutan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.

 

Fisik, semangat dan daya ingatnya yang masih segar merupakan sumber daya,  merupakan energi yang dapat digunakan untuk bergerak, sehingga menghasilkan energi yang lebih besar lagi, sebuah gelombang energi yang dapat mempengaruhi kehidupan, meluluhlantakkan tabir masa depan menuju kejelasan visi dan fokus dalam beraktivitas.

 

Program akselerasi kepemimpinan pemuda ini diharapkan akan mampu menghasilkan energi yang luar biasa besar bagi perubahan bangsa.

 

Semakin besar harapan yaitu kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya terjadi maka akan dibutuhkan energi yang semakin besar pula untuk dapat menutup kesenjangan tersebut, dan kalau kita saksikan bagaimana kondisi kesenjangan yang terjadi di Indonesia, kita saksikan begitu besarnya kesenjangan tersebut dan berarti juga menunjukkan akan kebutuhan energi yang besar pula.

 

Dengan demikian untuk dapat mengeluarkan Indonesia dari keterpurukan dan menciptakan kejayaan, maka diperlukan para pemimpin yang mempunyai Energi yang besar, dan itu ada di para PEMUDA!

 

Terlihat begitu pentingnya energi yang dimiliki pemuda dan akselerasi yang harus diciptakan, maka keterlibatan orang tua untuk mempersiapkan ahli warisnya atau anaknya mempunyai kemampuan kepemimpinan adalah sangat penting dan mendesak bagi bangsa ini.

 

Akselerasi Kepemimpinan Pemuda akan sulit terjadi jika sistem manajemen SDM disetiap organisasi baik pemerintahan, lembaga negara, swasta, ormas maupun organisasi sosial dan politik belum mengadopsi konsep akselerasi dalam pengembangan karir pegawai atau anggotanya, atau sering kami sebut sebagai Sistem Manajemen Akselerasi Kepemimpinan (SIMAK) atau FLASH (Future  Leadership Acceleration System House). 

 

SIMAK menyebabkan pengembangan karir bukan sekedar berlandaskan pada kompetensi dan kinerja saja (konsep pengembangan SDM yang lagi populer), yang dalam kamus kami hampir identik dengan Ruang Lingkup Peran dan Kompetensi yang digabungkan menjadi Keunggulan. Namun konsep ini tidak hanya mengukur tingginya kinerja tapi mengadopsi juga seberapa luas kinerja (banyaknya peran).

 

Konsep SIMAK sudah berbasiskan pada value atau nilai pribadi yang merupakan gabungan antara superioritas (keunggulan) dan soliditas, sehingga konsep ini selain mengadopsi banyaknya peran, juga memperhatikan aspek soliditas peran yang ditunjukkan dengan skala komplementari, konektivitas. koalisi dan integrasi.

 

Tentang bagaimana mengelola supaya mampu meraih personal value yang tinggi, dapat dipelajari pada konsep yang kami sebut sebagai Manajemen Waktu Generasi V, dimana didalamnya secara teknis menerapkan format Asep HOPE (House of Personal Energy) .

 

Konsep-konsep diatas akan semakin memberikan hasil yang luar biasa jika lebih jauh lagi dikaitkan dengan konsep Celestial Management yang mengakui adanya energi luar biasa dalam kehidupan, yaitu sumber dari segala sumber energi yaitu Tuhan yang selalu memberikan rahmat dan berkahnya melalui malaikat pada manusia. Konsep yang akan membuat manusia keluar dari derajat kemanusiaan dan mencapai derajat makhluk paling mulia, dengan hidupnya kalbu. 

 

Terdorong oleh energi yang muncul dari berbagai konsep yang kami buat di atas dan perlunya implementasi secara nyata dari konsep-konsep di atas, menyebabkan keinginan untuk membagikan konsep dan mengajak pihak-pihak yang peduli pada kemajuan Indonesia, khususnya pada kepemimpinan di Indonesia dan lebih super khusus yaitu akselerasi kepemimpinan pemuda di Indonesia, maka di gulirkan YOUTH-INDOLEAD PROGRAM (YIP).

 

YIP ini mempunyai harapan yang ingin dicapai, yaitu :

 

Pada tahun 2020, rata-rata Pemimpin INDONESIA berusaha dibawah 40 tahun.

 

Untuk mewujudkan harapan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak termasuk didalamnya adalah para orang tua (ibu dan bapak) dari para pemuda, untuk mendorong dan mempersiapkan ahli warisnya untuk memimpin, mereka diharapkan tidak segan untuk menginvestasikan harta yang dimilikinya, untuk membuat ahli warisnya mempunyai kekayaan hati, akal dan fisik.

 

“…Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah dengan ikhlas karena Allah kecuali engkau akan mendapat pahala karenanya...” (Muttafaq’Alaih)

 

Kepedulian yang  lebih besar akan mendorong para orang tua tidak hanya mempersiapkan anak-anak mereka, tetapi mempersiapkan secara lebih luas lagi yaitu pemuda Indonesia dengan cara mendukung dan berkontribusi secara aktif, mereka tidak akan segan-segan untuk berkontribusi baik dengan pemikiran, tenaga, fasilitas dan dana dalam dalam mewujudkan terjadinya akselerasi kepemimpinan pemuda lewat program YOUTH-INDOLEAD.

 

YOUTH-INDOLEAD TEAM : Deny (HP: 081931380100)

 

Bersama timnya mereka akan mengadakan Pelatihan Akselerasi Kepemimpinan Pemuda kepada pelajar, mahasiswa dan pemuda (profesional muda, petani muda, dan berbagai praktisi lainnya) secara gratis dan simultan dengan pendekatan pelatihan modern.  Mereka akan melakukan penelitian dan kajian untuk merekomendasikan solusi terbaik bagi akselerasi kepemimpinan pemuda, melakukan survey untuk memonitor berapa rata-rata usia pemimpin di Indonesia dan menyampaikan hasilnya kepada publik.

 

Kami yakin anda adalah orang tua yang bijak dan bertanggung jawab…

Tak akan berdiam diri ...dan segera mendukung dan berkontribusi bagi akselerasi kepepimpinan ahli warisnya...agar mereka kuat…

 

Sesungguhnya Allah lebih mencintai Mukmin yang kuat dibandingkan dengan Mukmin yang lemah”

 

Wassalam.

Wallahu’alam.

 

  

 
There are no photo albums.
Some audio and video that given inspiration & motivation
No list items have been added yet.